April 19, 2017

BATU SANDUNGAN

Sebelum ketemu batu sandungan, aku merasa kalo cita-citaku jadi researcher itu ga muluk-muluk. Aku merasa yakin dengan apa yang aku pilih alias bener-bener ngga ada keraguan deh. Rencana pun disusun: lulus dengan nilai tugas akhir AB, nunggu pengumuman master, go abroad, lulus master, terus kembali ke kampus atau research organization. Man, ternyata rencana yang aku susun ngga seindah layer-layer kue red velvet di Starbucks. Awal Maret ditolak sama 4Cities, terus sidang pembahasan ada satu dosen penguji yang memberatkan hasil kerjaku sehingga nilai sidang pembahasanku super mepet dengan ambang batas kelulusan. Jujur aku sempat kecewa, tapi gimana lagi ternyata hasilnya memang seperti ini. Setelah sidang aku sempat berat hati untuk bersenang-senang, tapi toh ngga ada gunanya kelamaan tenggelam juga. Tetiba aku teringat kata-kata Pak Ar, salah satu dosen paling bijak menurutku, yang pernah bilang kalau diseminasi ilmu itu ngga gampang karena harus ada kesepakatan. 

Kilas balik ke cita-citaku jadi researcher, motivasiku bisa dibilang karena lingkungan terdekat denganku tapi bisa dibilang juga ngga. My dad is a lecturer slash researcher slash EIA assessor. Tapi aku sama sekali ngga kepikiran buat masuk ke ranah academia karena pekerjaan bapakku. It took months to realized that I want to do to it because I think it will be good. Waktu SMA aku kesulitan buat memahami pelajaran karena guru-gurunya ngga begitu care. Apalagi aku sekolah di SMA yang murid-muridnya pinter semua and I was the one who left behind. Keadaan berubah waktu kuliah. Aku merasa lebih bahagia dengan lingkungan belajarnya, dosen-dosen yang kutemui di awal perkuliahan pun perhatian, dan ada asisten dosen juga. Nilaiku ngga cuma meningkat, tapi aku juga merasa kalau belajar pun bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Aku pun sempet beberapa kali jadi teaching assistant which I always found exciting meskipun kadang kelakuan praktikan bisa bikin jengkel. Karena aku pernah berada di posisi yang 'tertinggal' yang rasanya ga enak banget, aku tau caranya menyampaikan sesuatu yang ruwet dengan sederhana dan banyak sentuhan personal. Kalau soal jadi researcher, specifically aku kepikiran karena sejujurnya dunia riset di Indonesia masih belum maju. Ngga percaya? Coba cek index negara kita, terus liat berapa banyak sih publikasi orang Indonesia yang sampai jadi breakthrough? 

Aku pengen jadi researcher yang fleksibel, yang bisa ngelakuin blue sky research tanpa takut ditodong apa manfaatnya buat kondisi kekinian bangsa tapi juga bisa menghasilkan riset yang manfaatnya praktis. Dengan menjadi researcher aku percaya kualitas bangsa kita bisa meningkat karena pemikiran kita sudah semakin maju. Tapi apadaya data-data di sini kurang bisa dipercaya, sedangkan blue sky research pun suka dipandang receh. Jadi researcher di luar negeri pun terasa menyenangkan karena ngga banyak ba-bi-bu, tapi bukankah lebih bahagia jika di hari tua kita bisa melihat apa yang kita tanam bisa menjadi sumber kebahagiaan orang-orang di negeri ini yang katanya selalu mengidamkan kehidupan yang sentosa?

Aku, hampir 22 tahun, ternyata belum cukup resilien.

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)