December 2, 2017

APPRECIATING PERSONAL MILESTONE AND CELEBRATING HAPPINESS

It's a post requested by my dearest college mate Ika, so I decided to write it in two languages. Before it bothers you, pardon me for mixing two languages at the same time because I'm more comfortable with it for this issue.

Waktu kita SMA, rasanya gambaran mengenai kehidupan kita sebagai orang dewasa semulus menjalankan fase lulus SMA-kuliah di jurusan (entah yang diimpikan atau ya, yang akhirnya didapatkan)-lulus-kerja. Aku sendiri termasuk orang yang pernah punya bayangan seperti itu. Tapi ternyata itu bisa jadi cuma fatamorgana. Ngga semua orang langsung kuliah setelah lulus SMA, ngga semua orang pula langsung bekerja penuh waktu (or let's say it as 'adult job') keesokan harinya atau sepekan setelah wisuda. Oh iya, episode lamaran-nikah-punya anak-punya cucu itu menurutku lain cerita karena ngga semua orang berniat untuk berkeluarga, kan?

Rasanya hampir semua orang-orang yang berada di sekitarku pun menginginkan adult job dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Lagi-lagi wajar kok. Sebagian kecil sudah mulai bekerja sebelum wisuda, sebagian lagi mendapatkan pekerjaan pertama mereka tidak lama setelah wisuda. Ada sebagian juga yang memilih untuk gap time sejenak untuk rehat dari masa perkuliahan, terutama masa-masa mengerjakan tugas akhir atau skripsi, untuk melakukan hal yang belum tercapai. Seorang senior pun pernah menyarankan untuk menikmati gap time sebelum tiba saatnya masuk jam 9, pulang jam 5 sore.

Semua ada waktunya kok.

I suddenly remember the transition time from being a high school student to a university student. Waktu itu Mei 2013. Ngga sedikit dari teman-teman SMAku yang udah diterima di universitas dan jurusan impian mereka. Sementara aku ngga. Down dong. Di hari pengumuman SNMPTN aku merasa bersalah banget kenapa waktu SMA malah senengnya ngegambar, foto, nulis, belajar bahasa asing, dibandingkan belajar sampai tepar. Terlepas dari standar SMAku yang tinggi, seharusnya aku memang berusaha lebih keras untuk memenuhi standar umum. Waktu aku SMA, hampir setiap kali ulangan eksakta seminggu kemudian aku harus mengikuti ujian perbaikan. Life was bitter and joyful at the same time. Bitter karena drama remedial yang ngga pernah berakhir, joyful karena aku bisa menikmati kesempatan-kesempatan yang sesuai dengan karakterku.

Seandainya waktu SMA aku ngga diremed dengan penuh drama, mungkin aku ngga pernah mempertimbangkan untuk ngambil jurusan PWK karena merasa "ih yang bener aja nilai segini masuk PWK?". Mungkin pula aku ngga pernah ada bayangan kuliah seimbang antara outdoor dan indoor, belajar untuk suka menulis yang awalnya cuma terpaksa karena tugas eh akhirnya seneng juga, dikasih kesempatan untuk mengenal Kota Surabaya dari banyak sisi, dipertemukan dengan orang-orang yang mengubah pandanganku tentang hidup, dan yang paling penting belajar mencintai sendiri apa adanya.

My progress is slow, but I'm happy because I know that I keep making progress. Mengenali dan mencintai diri sendiri pun butuh waktu. In my case, aku bersyukur aku punya gambaran menjadi peneliti sekaligus fotografer meskipun, yaa, agak telat prosesnya. As soon as I know what I want to do in the future, I start to make my own personal target. Yo girl is about to take development studies for her master degree and going back to real world as a researcher in two years from now. Currently I am also developing my personal plan for a doctoral program that is spefcifically designed for researcher. At the same time I also want to accelerate my carreer in photography by making portfolios and collaborating with local brand(s).

Ketika kita merasa media sosial terlalu toxic karena kita melihat teman-teman sudah lebih jauuuuhh milestonenya sementara kita cuma butiran debu, well, here's my two cents. Daripada cuma menganggap update-update yang semacam itu sebagai 'racun', kenapa ngga mencoba untuk membina hubungan yang baik? Misalkan tanya-tanya soal gimana dapet opportunity buat kerja atau pengalaman di tempat mereka, apa aja persiapannya, atmosfir kerjanya gimana. Tapi ya kalau ngga sanggup dengan hal seperti itu, meng-uninstall media sosial sejenak could be a good choice

Oh anyway speaking about marriage, sebagai orang yang suka memperhatikan post yang berseliweran di media sosial, terutama twitter dan Instagram, post-post tentang episode kehidupan lamaran-nikah-punya anak-punya cucu (pokoknya berbagi dunia dengan pasangan yang legal di mata hukum dan agama) nampaknya terkadang bisa menjadi pressure. Jujur aja aku adalah orang yang hidup di antara orang-orang yang menginginkan fase kehidupan tersebut dan memang ngga ada salahnya kok. Seeing the people around me feeling happy makes me happy, tooTo me, getting married to achieve the ultimate happines is definetely not a requirement. At least saat ini aku ngga memaksa diriku sendiri buat nikah dalam waktu hingga 3 tahun ke depan. Ada banyak cara untuk bahagia dan membahagiakan orang lain. Sorry to say saat ini masih banyak post di media sosial yang menjanjikan auto-happiness dengan menikah. 

What? 

Menikah adalah ibadah yang menyempurnakan setengah agama. Di suatu post yang pernah kutemukan waktu kuliah si penulisnya mengatakan kurang lebih begini, "menikah hanya menyempurnakan setengah agama. Sisanya yang setengah adalah tugasmu dan pasanganmu untuk menyempurnakannya". Siapapun yang menulis ini, aku berterima kasih kepadamu. 

Untuk teman-teman yang sudah menikah, selamat menjalani kehidupan barumu. Aku selalu salut dengan mereka yang berani menikah di usia muda. Buat yang belum, santai aja sebenarnya. Semua ada waktunya. As I have said before, ada banyak cara untuk bahagia dan membahagiakan orang lain. Do you love writing? Publish your pieces online or offline. Do you love styling outfit? Collaborate with a local brand and photographer. Do you love networking and doing business? Establish a startup. Mungkin jodohmu ada di belahan dunia yang lain untuk memperkaya pengalamannya, tapi bisa juga nyempil di kota yang sama.

To all millennials out there, aku berharap semoga kita ngga dependen sama figur seseorang untuk bahagia. Once they are gone, your happines could be gone, too. Define your own basic definition of happines. Ada kalanya kita menghadapi momen-momen yang pait atau cuma angin lalu yang rasanya ngga penting, tapi siapa yang tahu di masa depan justru momen-momen itulah yang kita kenang.

Hidup emang kadang pahit, tapi jamu yang punya khasiat bagus pun rasanya ada yang pahit kan?

2 comments:

  1. PREACH!!!!!! BENER BGT INI! LIFE IS NOT A RACE. at the end ya balik lagi, cuma lo sendiri yang tau diri lo dan maunya apa.

    ReplyDelete

don't spam, please use nice words :)