SAVING MYSELF

January 27, 2018

Akhir-akhir ini kampanye bopo alias body positivity semakin marak. Salut banget sebenarnya dengan movement seperti ini karena saya tinggal di negara yang mayoritas orang-orangnya masih percaya kalau ada standar kecantikan yang rigid: kulit putih, alis lebat, hidung mancung, slender body, dsb. Sayangnya, ada manusia yang pikirannya ngga ikut maju meskipun campaign semacam ini masuk akal banget. Selalu aja ngga puas dengan apa yang udah dimiliki. Tapi kadang ada juga juga orang yang ngga puas atas apa yang dimiliki orang lain.

Dear people, it's already 2018. With all those body positivity campaign, why are you still mocking others? I know I'm not the only one. This time let me share my latest experience. Beberapa waktu lalu saya sering banget dikatain, "iteman ya?". Pernyataan ini sebenarnya agak ngeledek ketika ditambahkan embel-embel, "padahal udah tinggal di Bandung, lho". Ya ada benarnya sih saya menghitam meskipun tinggal di Bandung. Lately I jog and swim on regular basis, both twice a week. Basically I have tan skin and big body figure. Kulit saya memang gelap tapi bukan berarti saya ga ada usaha buat merawatnya. I also have a big body figure, tapi bukan berarti juga ga ada usaha buat maintain to be fit. I applied sunscreen on daily basis, even before doing excercise tapi kan ya tetap bakal menggelap ketika durasi SPFnya habis. It's a human's nature to talk about others, but please do it wisely. I don't mind if people talk bad things about me, but could they just do it when I'm not in front of them?

Lucunya orang-orang yang ngeledek ini sebenarnya tau kalo saya emang seneng olahraga. Oh ya, akhir-akhir ini saya emang sering dan seneng olahraga karena jadwal kuliah yang agak longgar dan biar ngga bosen aktivitas di dalam ruangan terus. 

"Ih sombong banget olahraganya sendiri?"

Gimana ya, sebenarnya saya juga sering nyoba buat ngajak orang-orang buat olahraga cuma ya karena orang-orang yang diajak kebanyakan energi negatifnya daripada olahraganya. Ada lho orang yang mocking tiap kali diajak olahraga karena malu kalo diliatin, takut ngga sanggup, apapun deh bisa jadi alasan sampe akhirnya mending ngga usah diajak lagi daripada cuma nyebar energi negatif padahal olahraga harusnya kan bikin seneng. Saya beruntung banget waktu kuliah S1 punya teman-teman yang mau diajak olahraga dengan tujuan maintain fitness dan bikin happy. No prejudice, just us trying to move just like what we are created for. 

"Makannya dikit banget. Lagi diet ya?"

Omongan sejenis ini nih yang bikin pengen nampol orang. We never know what motivates someone to try eat less or more. In my case, my stomach isn't allowed to be filled until I feel bloated because of my health condition. Some of you might still remember that I had GERD attack about three years ago. Keluarga saya juga punya kebiasaan makan sedikit-sedikit tapi jenisnya banyak. I rarely eat in big portion kecuali emang ocassion tertentu. The last time I do mukbang was after my thesis defense. My friend and I ordered 36 sushi to celebrate our defense. Selebihnya kalo makan melebihi porsi sehari-hari itu simply karena makanan yang saya order itu porsinya besar (contohnya kwetiau Solaria) dan saya ga mau membuang makanan yang dipesan because I was taught to do so. 

Last but not least, ketika ada orang yang berusaha menerapkan hidup sehat yang dia yakini sepenuh hati tapi terkadang terlihat menyeleweng atau ngga menyerang balik orang-orang yang spreading negative energy, percayalah bisa jadi ada nilai-nilai persahabatan yang berusaha diselamatkan. I'd rather prevent myself from mocking those people, instead of losing them at once. 

You Might Also Like

0 COMMENTS

don't spam, please use nice words :)