March 28, 2018

COGITO, ERGO SUM


Suatu hari Pak J, rekan kerja Bapak, bertanya begini, "do you do what your parents told you because you have to obbey them or what?". Sebenarnya pertanyaan beliau biasa aja tapi efeknya bisa bikin sentimentil luar biasa. I was 21 almost 22 when Pak J asked that question. Beliau tahu kalau orang tua saya lumayan disiplin meskipun ngga strict-strict amat. Orang tua saya membiasakan anak-anaknya tidur jam 8 ketika SD supaya saya dan adik ngga kesiangan ke sekolah. Di hari libur pun tetep harus melek jam segitu meskipun terserah mau ngapain setelah beberes. Kamar juga harus rapi sebelum berangkat sekolah.

Bertahun-tahun kemudian saya merantau ke Surabaya karena diterima di ITS. Merantau sebenarnya bukan masalah besar karena toh saya terbiasa mengerjakan house chores di rumah. Toh saya juga memilih Surabaya atas kesadaran pribadi. Tapi tapi, semandiri-mandirinya pun ada perbedaan ketika menjadi anak rantau setelah 18 tahun tinggal bersama orang tua. Di rumah ada ART yang bisa membantu saya membereskan peralatan melukis meskipun saya nyuci kuas sendiri. Begitu pula ketika masak-masak dan ngeberesin rak buku. Selalu ada tangan yang sigap membantu. Tinggal sendiri emang memberi kita kebebasan buat berbuat sesuka hati, termasuk urusan kamar mau berantakan atau rapi, no one would care. Semuanya segimana kita. 

Saya belajar untuk mengatur kamar dan seisinya termasuk ritme hidup saya sendiri. Subuh-subuh bangun, kemudian membereskan kamar atau mengerjakan tugas. Setelah itu saya sarapan, entah di kamar atau di luar komplek. Pada hari-hari tertentu saya juga jogging di stadion kampus straight after subuh. Seusai jogging saya bersiap-siap ke kampus dan beraktivitas di kampus hingga sore. To be honest, memang ngga sedikit dari aktivitas sehari-hari saya emang ada yang merupakan bawaan dari kebiasaan semasa tinggal bersama orang tua. Tapi ngga sedikit juga aktivitas yang emang murni harus saya lakukan atas kesadaran sendiri. 

Benar adanya jika orang tua memiliki peran besar terhadap perkembangan anaknya. Tapi yang ngga kalah penting selain peran dari orang tua; anak pun harus memiliki kesadaran yang penuh dari apa yang diperbuatnya. Atau dengan kata lain, bener ngga sih kalau dibilang jadi anak itu juga harus berakal alias ngga cuma asal nurut? Sayangnya ada aja orang yang emang ngelakuin hal yang diperintahkan orang tuanya karena ya atas alasan nurut aja. Orang tua pun ada yang tipikal yang males ngasih penjelasan ke anaknya. 

Hal-hal sepele macem gini yang bikin suka mikir am I ready to be a parent in five years from now? Saya sering parno ketika dihadapkan hal semacam ini karena saya selalu masih merasa belum jadi figur yang baik (terlebih ketika inget kalo anak itu gampang banget niruin apa yang dilakuin orang tuanya). Ada juga sih orang yang berubah karena anaknya, tapi karena saya orang yang menganut paham kalau mau berubah harus atas kesadaran diri sendiri, bukan karena ngga enakan sama orang lain. Apakah saya juga bakal siap buat jadi orang tua yang menstimulus kesadaran anaknya dalam bertindak? 

Sebenarnya masih ada berjuta pertanyaan lain. But not for now.

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)