April 26, 2018

MAKNA

menatap penuh makna

Saya pernah jadi orang yang cukup ambis dalam urusan perkuliahan sewaktu S-1 karena baru merasakan enaknya belajar dan ngga mau mengecewakan orang tua saya (sebenarnya mereka chill aja) seperti ketika saya SMA. Nilai saya alhamdullah cukup layak buat ngambil SKS (satuan kredit semester) lebih dari 18 SKS. Saya bahkan pernah mengambil 23 SKS karena terpaksa dan 21 SKS dengan senang hati. Saking ngebutnya, di semester 7 SKS saya tinggal 16, tapi yang sebenarnya masuk kelas beneran itu 10 SKS. Sisanya 8 SKS asistensi kemajuan pengerjaan laporan magang dan proposal tugas akhir. Terlepas dari pencapaian tersebut (ceileh!) saya juga salut dengan diri sendiri yang masih bisa haha-hihi ketika mengambil 21 maupun 23 SKS. Istilahnya hiperbolahnya "Dua puluh tiga SKS aja masih hidup, cuy!". 

Hmm tapi yang sebenarnya terjadi adalah ucapan tersebut cuma bisa muncul setelah semua tugas besar (ngga ada UAS, alhamdulilla) dikumpulkan. Di minggu-minggu menjelang pengumpulan tugas besar maupun tugas pengganti UTS padahal tepar. Mau keluar kosan atau labkom pun rasanya perhitungan berapa menit yang bakal terbuang. Tapi beneran deh ada kebanggaan tersendiri ketika bisa menyelesaikan semester yang berdarah-darah tapi menyempatkan nonton di bioskop, icip-icip pasta atau cakes di kafe dekat kampus, jogging di stadion, renang selepas maghrib, dan segala bentuk kesenangan lainnya. 

Kata Bang Rhoma kan 'masa muda, masa yang berapi-api'
Januari ini saya diberi kesempatan untuk menjadi mahasiswa lagi di sebuah kampus yang letaknya dekat Kebun Binatang Bandung. Kali ini saya mengambil jurusan Studi Pembangunan (Development Studies). Tidak sedikit orang yang bilang kalau S-2 seharusnya santai. Bahkan dengan gencarnya mempromosikan "bisa kok sambil kerja". Ooh baiklah. Mungkin S-2 lebih indah daripada aransemen lagu Apologize-nya OneRepublic. 

Ternyata S-2 memang sungguh indah.
Tapi hanya di awal. Hehe.

Enam belas SKS. Empat pertemuan dalam seminggu. Sungguh ngga ada artinya dibandingkan 23 SKS, 8 pertemuan dalam seminggu belum termasuk praktikum dan asistensi. Di awal semester saya yang tersugesti oleh keindahan-keindahan yang dikatakan oleh orang-orang pun terpikir untuk mengajukan internship lagi untuk posisi government relation di sebuah NGO di Bandung. Dua minggu kemudian saya diminta untuk datang ke kantor. Namun yang terjadi adalah seminggu sebelumnya kami diminta untuk melakukan penelitian berkelompok secara intensif untuk dua mata kuliah. Salah satu subjek penelitian kami adalah sebuah komunitas yang memang memiliki banyak agenda mingguan. Karena situasi dan kondisi ini kami diharuskan untuk ke lapangan setidaknya seminggu sekali. Beberapa kali informan kami pun hanya dapat ditemui di malam hari. WOW. Satu minggu sebelum masa magang dimulai saya memutuskan untuk mengundurkan diri karena sejujurnya saya ngga sanggup kalau harus membelah diri antara kuliah, studi lapangan, dan magang. 

Kelar urusan pembatalan magang, saya menjalani kehidupan antara kampus - fasilitas olahraga kampus - lapangan. Sesekali ke tongkrongan untuk bertemu dengan teman-teman lama karena saya masih butuh afirmasi dari mereka. Di antara menjalani kegiatan di tempat-tempat tersebut saya juga mencicil catatan lapangan (catlap) setiap kali survei selesai dilakukan. Oh ya karena metode yang digunakan adalah kualitatif, tentu saya juga harus menyusun transkrip. Total rekaman audio yang harus saya kerjakan berdurasi 2 jam. Hasilnya adalah transkrip dengan panjang lebih dari 40 halaman kertas A4. Menyusun transkrip sebenarnya bukan pekerjaan yang susah, tapi membutuhkan stamina tingkat tinggi. Sederhananya kamu hanya perlu mengetik apa yang kamu dengar. Pekerjaan ini juga termasuk agak membosankan karena kamu harus mendengarkan suaramu berjam-jam, ngga bisa disambi mendengarkan musik. 

Setelah transkrip selesai, apakah beban hidup sudah berkurang?
Oh tidak, sayang.

Drama sesungguhnya baru dimulai. Babak selanjutnya adalah menyusun koding, tapi bukan untuk si doi. Waktu S-1 menyusun koding sepintas terlihat sederhana karena ada variabel-variabel dari hasil tinjauan pustaka yang dijadikan panduan dalam mengerjakan koding. Teman sesama asdos yang bernama Aska, bahkan menggunakan perangkat lunak NVIVO untuk menganalisis transkrip. Metode-metode yang pernah saya kenal di S-1 kemudian saya ceritakan di kelas karena dosen saya iseng-iseng menanyakan pengalaman dalam menyusun koding transkrip. Ternyata cara yang halal dilakukan di S-1 sudah tidak boleh digunakan di S-2.

Sang dosen pun memperkenalkan cara yang lebih canggih. Transkrip yang kita susun tidak boleh serta merta ditranskrip berdasarkan variabel yang kita jadikan pegangan. Pertama transkrip harus dibaca secara utuh sampai kita mendapatkan hipotesis tentang informasi apa saja yang dimuat di transkrip tersebut. Baru setelah itu kita menyusun koding berdasarkan hipotesis tadi. Koding kelar, drama baru timbul. Ada bagian go beyond the words yang bisa diartikan sebagai bagian yang menceritakan hikmah yang kita dapat dari cerita di transkrip yang dianalisis. Bagian ini sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena harus 'tinggal' menceritakan apa maknanya bagi penulis, susah karena belum tentu penulis memiliki pengalaman yang serupa dengan informan. Bisa-bisa penulis terjebak antara menjadi pembela atau justru terlalu judgmental. Hal seperti ini juga pernah dibahas di jurnal yang menggunakan metode studi naratif maupun fenomenologi. 

Di penghujung pekan perkuliahan tiba-tiba saya tersentil oleh narasi dosen favorit saya. Kebetulan pada pertemuan terakhir itu beliau mengadakan wrap up session yang isinya menyimpulkan semua materi perkuliahan serta mendiskusikan hal-hal yang mengganjal di hati mahasiswanya. Beliau juga menceritakan pengalamannya ketika menjalani program master dan doktor. Pada masa-masa itu beliau sering mendapatkan tugas yang menuntut mahasiswa untuk menuliskan refleksi dari mata kuliah yang diajarkan oleh dosen. Ucapan beliau yang paling menohok bagi saya adalah, "saya dulu kalau ngerjain tugas begini pas lagi pusing, ya saya tinggal sebentar. Saya jalan-jalan dulu untuk mencari inspirasi". Oh my, beneran deh mengerjakan tugas dadakan itu ternyata ngga bagus karena akan mengurangi maknanya. 

Enam belas SKS mungkin dulu terlihat receh, tetapi sekarang sebenarnya setelah dijalani ngga sereceh itu. Perkuliahan semester ini cukup banyak membahas (dan beberapa kali diingatkan) tentang makna, termasuk yang sifatnya hitungan sekalipun. Meskipun kurvanya benar, tetapi kalau ngga mendapatkan maknanya ya sebenarnya percuma. Saya juga pernah diingatkan (secara tidak langsung) tentang makna oleh informan penelitian saya. Informan saya yang terbilang sedikit nyentrik sepintas, tetapi saya sukses dibuat kagum dengan prinsip hidupnya. Menurutnya seharusnya manusia memiliki kesadaran penuh dalam menjalankan hidup. Misalkan jangan membeli sesuatu hanya karena tren. Toh sebenarnya pun tidak ada yang pernah menyalahkanmu karena tidak mengikuti tren. 

So, I'm sitting here in a cozy corner of my boarding house after working on my final project, which is a narrative study about a chief of a community. Koding sudah selesai, narasi kehidupannya juga sudah hampir selesai. Lucunya tugas ini semakin dikerjakan justru semakin membingung. I even quizzed myself whether I have don the right procedure or not. Sekarang 'tinggal' menyusun makna dari apa yang diutarakan oleh informan. Iya, tinggal. 

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)