April 22, 2018

PANGALENGAN


"Hunting yuk!"
"Mau ke mana?"
"Cikole boleh, Pangalengen juga boleh"

Berawal dari ocehan iseng dengan kawan lama saya yang agak pemilih soal destinasi hunting foto, kami memutuskan untuk pergi ke Pangalengan. Perjalanan sejauh kurang lebih 50 km dari Kota Bandung kami tempuh dengan sepeda motor. Awalnya kami berencana untuk berangkat selepas solat subuh di masjid kampus, apadaya kawan saya bangun sedikit terlambat. Kami akhirnya berangkat pukul 5.30 pagi saat pagi masih pekat. Ya iyalah beda dengan Surabaya, neng.

Kawan saya bercerita bahwa ada dua rute utama untuk mencapai Pangalengan: rute Ciwidey atau Banjaran. Dua tahun sebelumnya saya pernah melewati rute pertama dengan keluarga saya, tetapi saya tidak mampu mengingat detailnya karena mengantuk. Kawan saya memilih rute Banjaran karena lebih dekat dan ia lebih familiar dengan rute tersebut. Awalnya saya pikir jarak dari simpang tiga yang tidak jauh dari Kopo tinggal sedikit. Ternyata salah besar. Perjalanan sesungguhnya baru dimulai. 

Medan menuju Pangalengan mungkin tidak rumit bagi orang yang suka bepergian jarak jauh dan rute berliku dengan motor. Meskipun saya cuma berperan sebagai penumpang, rasanya ini hal yang baru. Kontur khas Pegunungan yang naik turun mewarnai perjalanan kami. Untung saja jalannya tidak berlubang. Hiburan selain ngobrol ngalor-ngidul yang bisa dinikmati adalah melihat sunray. Emang dasar anaknya ngide, saya suka menyebutnya dengan cahaya Ilahi.  Sunray ini hanya muncul sekitar dua jam setelah matahari terbit. 

Pukul 8.15 kami akhirnya tiba di spot yang kami tuju: Situ Cileunca. Danau ini lumayan terkenal di kalangan fotografer dan penghobi foto. Saya nyaris tidak bisa mengenali danau ini ketika tiba karena kondisinya berbeda sekali dengan dua tahun yang lalu. Saat itu danau ini kering kerontang sampai-sampai rasanya tidak pantas disebut danau. Onggokan lumpur terlihat dimana-mana, bersanding dengan jaring nelayan yang tidak aktif. Tetapi hari itu rupanya saya mendapatkan keberuntungan. Kondisi danau masih sepi dari pengunjung karena masih pagi dan... akhir bulan. Emang apa hubungannya dengan akhir bulan? Wah jangan salah, tempat wisata justru asyiknya dikunjungi akhir bulan karena lebih sepi. Terlebih kalau tujuannya untuk hunting.


Kekonyolan kami ternyata tidak berhenti di sini. Kawan saya yang terkadang perfeksionis itu ternyata lupa membawa tripod. Memotret lanskap di Pangalengan sangat direkomendasikan dengan menggunakan tripod. Selain karena alasan teknis, kondisi tanahnya pun mendukung. Lensa yang saya bawa pun kurang cucok meong untuk memotret lanskap. Apa daya lensa normal saya ada di Bogor, sedangkan lensa yang saya bawa ke Bandung adalah lensa fiks yang lebih cocok untuk foto editorial fashion. Ampun deh.


Bagi netizen yang ingin bepergian ke Situ Cileunca demi konten Instagram, bersiaplah untuk tidak mendapatkan pemandangan yang diinginkan. Tapi bagi para penggemar fotografi, rasanya tiket pengunjung Situ Cileunca tidak ada nilainya dibandingkan pemandangan yang didapatkan. Untuk memotret Situ Cileunca ada beberapa opsi spot. Pertama pinggir danau yang dapat diakses melalui gerbang resmi, sedangkan alternatifnya adalah pinggir danau yang berdekatan dengan pintu dam. Tidak ada biaya tiket yang dikenakan jika kita memotret dari pintu dam, kecuali biaya parkir.

Petualangan kami berakhir pukul 11. Selain karena cahaya matahari yang makin 'pecah', saya juga ada janji observasi dengan informan saya di Gedung Sate. Lagi-lagi dengan asumsi akhir bulan yang berkorelasi dengan perjalanan anti macet, ternyata kami salah lagi. Jalan sepanjang Kopo ternyata macet berat. Kami memutuskan untuk pulang ke perkotaan Bandung via Dayeuh Kolot. Saya yang penasaran dengan Dayeuh Kolot mengiyakan saja alternatif tersebut. Kekonyolan pun bertambah tiga: kami terjebak banjir sebanyak tiga kali. Long story short, setelah berhasil menembus banjir dan mencapai perkotaan Bandung via kampung halamannya Dilan (alias Buah Batu), kami akhirnya sampai di tujuan pukul 12.30. Pulang-pulang saya menyadari muka saya kumusnya minta ampun karena polusi udara dan panas setelah bertualang singkat ke Pangalengan, padahal besoknya harus ke kondangan. Aku ra po po. 

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)