April 22, 2018

PRESSURE

anggap saja burung yang tertekan karena berada di sangkar bertahun-tahun

Ngga sedikit dari orang-orang di sekitar saya yang bilang kalau pasca sarjana, terutama S-2, itu dibawa chill aja. Tugas individu bisa dikerjakan dengan santai. Bahkan ada yang menyarankan sambil bekerja. Karena saya anaknya tipikal batu alias maunya tetap berpegang teguh pada pendirian diri sendiri, saya ngga lantas percaya. Bodo amat lah, saya akan menjalaninya dengan cara saya sendiri karena kembali ke sekolah adalah pilihan saya sendiri yang saya yakini sepenuh hati. I'll gotta find my own way. Sayangnya ada hal yang orang-orang sering lupakan ketika membicarakan aspek kesiapan mental ketika akan kembali ke sekolah. They forget to tell me and us about pressure. Awalnya saya pikir S-2 bakal biasa saja dalam urusan pressure ini. Toh saya juga belum lama ini lepas dari sekolah. Saya hanya meninggalkan bangku sekolah selama tiga bulan, dan selama itu pula saya sebenarnya ngga jauh-jauh amat dari urusan persekolahan karena pekerjaan yang sempat saya cicipi pun cuma jadi peneliti magang. 

ENG ING ENG jebakan batman. Saya salah besar. Meskipun saya pada dasarnya old soul, ternyata jiwa old soul saya ngga cukup untuk membantu saya keluar dari jebakan ini. Dalam pergaulan sehari-hari di kelas saya sebenarnya tidak ada masalah. Selain teman-teman yang berusia 30 tahun ke atas, teman-teman yang berusia antara 23 - akhir 20-an berjumlah sekitar 8 orang. Masalah baru timbul ketika pengerjaan tugas kelompok dan presentasi tugas besar (final project sebagai pengganti ujian akhir semester).

Orang-orang yang terbilang lebih tua sebenarnya saya harap dapat memberikan contoh bagaimana menjadi orang dewasa yang ideal. Namun yang saya temui justru kebalikannya. Memang tidak semuanya menyisakan sisa kekanak-kanakannya, tetapi karena itu saya menyadari bahwa menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Konflik-konflik kecil yang saya kira seharusnya cuma terjadi di jenjang S-1 seperti urusan ketua angkatan, tenggat waktu pengumpulan tugas, dsb masih terjadi. Bedanya kalau di S-1 kita hanya berurusan dengan teman-teman seangkatan yang masih transisi dari anak SMA menjadi mahasiswa, di S-2 justru lebih banyak bumbunya. Bertambah umur bukan berarti semakin mudah legowo atau berani mengakui kesalahan. Justru gengsinya bisa juga bertambah. Ketika saya masih menjadi mahasiswa baru S-1 hal-hal seperti ini lantang dibicarakan di forum angkatan, meskipun akhirnya bisa berujung hampir nangis atau nangis beneran karena begitu emosional dalam mengungkapkan perasaan. Bye gengsi. 

Selisih usia ini juga semakin memperlihatkan batasan antara si idealis dan ngga. Lagi-lagi saya dibuat terkejut oleh hal ini, padahal seharusnya ngga juga. Orang yang sudah lumayan lama bekerja dan akhirnya memiliki staf bawahan dapat memiliki sikap ngegampangin (duh, bahasa bakunya apa ya?). Singkatnya sifat ngagampangin ini bisa aja timbul karena sudah memiliki staf bawahan yang memastikan pekerjaan yang kamu inginkan beres, seruwet apapun. Saya tidak suka jika ada yang mengatakan bahwa menjadi orang yang idealis adalah sikap yang nyusahin diri sendiri. Jika orang tersebut idealis, tentu dia akan berusaha sebaik mungkin agar targetnya tercapai. Beda lho ya dengan jadi orang yang rempong; mencari celah agar urusan cepat beres tanpa mendapatkan makna dari prosesnya.

Hmm apa lagi ya?

Terakhir deh. Pressure yang lain justru datang dari dosen. Semoga sih saya ngga salah mengartikannya. Atau mungkin terminologi pressure ngga cocok buat ngegambarin keadaan ini: dosenmu perfeksionis, ngasih tugas ngga kira-kira bebannya dibandingkan tenggat waktunya, sementara dosen ini ngga pernah ngasih afirmasi juga. Tiap kalo ada laporan perkembangan, apapun yang sudah dikerjakan dapat dikatakan salah. Ujung-ujungnya saya mencoba husnudzon: mungkin sekarang sudah waktunya untuk ngga bergantung dengan afirmasi orang lain. Mau ngga mau harus mulai mengandalkan sugesti pribadi supaya lebih tangguh. Hap hap!

Pada masa-masa ini saya semakin merasa kalau teman lama itu tetap dibutuhkan. Ibarat sarang burung, saya selalu merasa teman-teman lama saya, baik teman SMA maupun teman S-1, adalah sumber afirmasi saya. Mereka juga lah yang menjadi rumah kesekian saya (kan bagi milenial rumah adalah soal perasaan). Saya juga mencoba bergabung dengan sebuah komunitas yang anggotanya banyak seumuran dengan saya. Hal lain yang bisa lakukan buat mengurangi kecemasan karena pressure yang bisa berujung stres (amit-amit jangan sampe kena psikosomatis) adalah olahraga dan nonton film (secara sendiri) di bioskop. Ya kemudian saya tersadar untuk tetap waras pun biayanya juga ngga sederhana...

Cheers!
J

---
Tulisan ini adalah bagian dari kumpulan tulisan dengan topik grad school drama. Saya sengaja mengkurasi tulisan saya yang khusus menjadi memoar menjalani masa-masa perkuliahan pasca sarjana karena ada permintaan dari teman-teman karena minimnya tulisan tentang bertahan di masa kuliah kedua sekaligus untuk menjadi pengingat bagi diri sendiri di masa depan. 

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)