SENTIMENTAL

April 15, 2018


Beberapa saat terakhir ini saya sedang rajin mengelompokkan tulisan saya, terutama catatan personal yang saya terbitkan di blog ini yang pada akhirnya saya beri label #pillowtalk. Ada perasaan yang aneh ketika membaca ulang tulisan lama saya. Kok rasanya tua amat ya? Kenapa rasanya lebih cocok diberi label #catatansentimental? Eh tapi emang kayaknya dari dulu saya itu old soul. Kalo bahasanya Claradevi sih jiwa nenek-nenek. Saya sih lebih suka menyebutnya dengan sentimental. Yo wis, karepmu wae lah.  

Balada jadi orang sentimental itu banyak banget, karena banyak aja ngga cukup. Saya merasa kalau saya punya koneksi yang lebih mendalam dengan suatu objek karena ada pengalaman yang sangat menyenangkan atau malah menyedihkan ketika mengingat objek tersebut. Sampai sesepele saya punya perasaan sentimental terhadap makanan bubur ayam. 

To be honest, saya pun ngga suka dengan terminologi baper alias bawa perasaan. Selain baper yang bisa digunakan sebagai pengecualian untuk tidak meminta maaf padahal bersalah, menurut saya baper juga mengingkari nature-nya manusia sebagai makhluk yang kayak emosi. Terkadang saya sampai bingung mengapa ya ada aja orang yang mempermasalahkan orang lain yang memang ingin mengungkapkan emosinya. Oh ya, saya jadi keinget kalo ada stereotipe kalo anak laki-laki ngga boleh nangis. Haduh hari gini kenapa masih main stereotipe ya? Andai saja orang-orang paham kalo anak-anak perempuan diperbolehkan menjadi insinyur perminyakan yang katanya ranahnya laki-laki, mengapa anak laki-laki tidak boleh menangis? Kan sama-sama permasalahan hak. 

Selain persoalan terminologi baper tadi, perasaan sentimental saya juga sering muncul ketika mengerjakan tugas kuliah. Tugas kuliah saya sekarang memang bisa dibilang absurd jika dibandingkan masa S-1 dulu. Ada tugas penelitian kelompok yang bagian individunya adalah menulis tentang riset naratif. Hal yang unik dari riset naratif adalah adanya tuntutan bagi penelitinya untuk go beyond the words. Karena saya bingung menjelaskannya secara sederhana dan baku, versi suka-suka dari go beyond the words ala saya adalah menuliskan hikmah kehidupan dari informan yang diwawancara. Beuh, mantap ngga tuh?

Informan yang saya wawancarai bersama  rekan-rekan sekelompok adalah orang yang kisah hidupnya terlalu sayang untuk dilewatkan. Beliau adalah pembina sebuah komunitas yang cukup dikenal di Bandung, terutama di kalangan anak muda yang suka sejarah. Singkat cerita, menyusun transkrip percakapan dengan beliau sukses membuat saya berpikir bahwa pepatah "it takes a village to raise a child" benar adanya. Mendidik anak ternyata bukan cuma perkara bisa menyekolahkan di sekolah favorit sampai bangku kuliah atau mau ngasih makan apa. It's beyond the things that could be easily seen. Mau ngajak anak main atau bacain buku aja meskipun sepele ternyata harus dipikirin apa esensinya dan value apa yang mau ditransfer. Mungkin besok mainannya cuma bakal jadi benda biasa, tapi bertahun-tahun yang akan datang si mainan akan jadi artefak yang esensial banget. Katakanlah si anak ini suka diajak main Lego, eh dua puluh tahun kemudian jadi arsitek karena stimulus dari Lego. 

Terus neng, di mana letak "a village"-nya?
Hmm menurut pemikiran rada ngaco saya sih jadi orang tua yang baik di rumah aja ngga cukup, alias di luar rumah pun harus tetap berperilaku yang baik karena mana tahu ada bocah yang mencontoh kelakuan absurd kita. Ngga heran ya kalau kata Allah setiap manusia harus jadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Setelah si anak tumbuh dewasa dan ternyata ada sifat negatif pada dirinya, apakah ia berhak menyalahkan orang tuanya yang ia anggap mewarisi sifat tersebut? Menurut saya sih hak untuk menyalahkan orang tua ada, tapi apakah lantas harus serta merta menyalahkan orang tua? Bukankah menjadi dewasa itu menjadi orang yang berdiri di atas kaki sendiri yang mampu menentukan langkahnya dengan penuh kesadaran? 

Berat ya ternyata jadi orang tua. 
Kalo kata Keke Kania sih ngga ada manual-nya.

You Might Also Like

0 COMMENTS

don't spam, please use nice words :)