May 6, 2018

BAKOH




'Bakoh' bukan kata yang umum digunakan di Jabodetabek atau Bandung, atau di Surabaya. Saya mengetahui kata ini dari teman SMA yang sedang kuliah di Solo. Usut punya usut, ternyata 'bakoh' artinya sama dengan tangguh. 

Nah, omong-omong tentang 'bakoh' semenjak awal tahun 2018 ini saya sering kepo akun Instagram para ibu-ibu muda alias ibu-ibu milenial. Dari sekian banyak akun yang jadi favorit saya adalah akun milik Puty Puar, Keke Kania, Raden Prisya, dan Nike Prima. Setelah dilihat-lihat lagi, ternyata mamak-mamak favorit di dunia maya itu punya satu kesamaan: kreatif dan legowo aja menertawakan hidup, meskipun hidup ngga semulus kulitnya Behati Prinsloo. Meskipun kelihatannya unggahan mereka hawanya cenderung haha-hihi, tapi jujur saya salut banget dengan mereka karena selalu bisa mengambil hikmah dari pengalaman hidup. Sepintas terlihat haha-hihi aja, tapi makin didalami ternyata banyak juga jungkir balik kehidupan mereka. Karena mereka lah saya sering berpikir kalau di masa depan nanti jadi ibu, harus sebakoh apa ya?

Ada satu cerita tentang kebakohan Mbak Prisya (panggilan sok akrab, padahal baru 1-3 kali ngobrol via direct message) yang menarik banget buat saya. Ceritanya tentang perjuangan melewati post-partum dissorder (PPD). Zaman sekarang ngobrolin PPD sudah menjadi hal yang semakin wajar, ngga kayak empat yang tahun lalu. 

Oh ya, saya memang menaruh sedikit minat terhadap isu PPD ini karena di tahun 2016 saya menemukan cerita yang mengiris hati tapi juga membuka pikiran saya. Ceritanya ketika sedang mengalami periode gabut di tempat magang, saya iseng-iseng browsing dan kebetulan menemukan cerita tentang Mbak LA (ini pseudonim). Di blognya Mbak LA ada dokumentasi dari perjalanan beliau menghadapi PPD. Saya yang waktu itu belum tahu sama sekali tentang PPD berpikir, "lah serem amat sampe segini? Baru ngeh pressure jadi ibu bisa segini juga...". Orang yang seawam saya juga mungkin akan berpikir kalau apa yang dialami Mbak LA ini terbilang brutal: beliau punya keinginan (yang tidak terkontrol) untuk membunuh anaknya yang baru lahir. Saat itu kondisi keluarganya juga memang kurang baik. Mbak LA ditinggalkan oleh suaminya ketika fase transisi menjadi seorang ibu. Ngga shanggup deh bayanginnya. 

Kembali lagi ke ceritanya Mbak Prisya. Enam tahun lalu Mbak Prisya melahirkan anak pertamanya. PPD menyerang beliau selama empat tahun. Banyak orang yang ngga percaya kalau beliau mengalami PPD selama itu. Sebagai momen survival, Mbak Prisya membuat Matroishka. Well, Matroishka ini jenama (merek) baju ibu menyusui yang cuttingnya tidak seperti baju ibu menyusui. Pokoknya chic deh. Dari Mbak Prisya saya lebih mengerti kalau PPD itu nyata dan ruwet tapi harus dihadapi.

Dalam perjalanannya Matroishka menjadi momentum yang membuat Mbak Prisya bisa memenuhi mimpi-mimpinya dan mempertemukannya dengan sesama ibu-ibu yang passionate.  Bulan Maret lalu Mbak Prisya memutuskan untuk graduating Matroishka. I was way too curious and ended up with reading her blog. Saya yang bukan pembeli Matroishka merasa mellow ketika membaca cerita di balik keputusan besar Mbak Prisya. Matroishka ternyata pamit karena keinginan Mbak Prisya untuk mengenali dirinya sendiri dengan lebih baik, termasuk jadi ibu yang lebih berdedikasi untuk anak-anaknya. I'm sure that Matroishka was not only a brand for her; it was a journey that let her discover beyond what the eyes can see.

Tulisan ini akhirnya saya post bukan dengan tujuan menakut-nakuti diri saya dan teman-teman yang berujung dengan segala keparnoan tentang memiliki anak yang akan timbul.  No, the purpose was not for that. I just want to reshare a meaningful experience that even though adulting is hard, every step that we take is a learning process. Tentu setiap langkah yang diambil ada resikonya, tapi bukan berarti itu jadi alasan buat menghindar karena, ya, parno aja. 

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)