May 18, 2018

BANG OMA


Banyak orang yang ngga tau kalau saya sebenarnya penggemar Bang Oma alias Rhoma Irama. Orang-orang lebih mengenal saya sebagai penggemar Adhitia Sofyan, Rendy Pandugo, atau Ardhito dan segala lini kroninya. Pokoknya musik yang temponya benar-benar mencerminkan kehidupan yang laid-back. Well, dalam urusan per-Rhoma Irama-an ini saya sebenarnya bukan fans militan sih, tapi ada kalanya merasa terhibur banget dengan konten-konten yang disuguhkan lewat karyanya, entah dalam bentuk film atau musik. 

Film Haji Oma (nama panggilan lain Bang Rhoma Irama) yang punya kenangan paling sentimentil bagi saya adalah "Berkelana". Film ini mengisahkan Rhoma muda yang semangatnya berapi-api. Mungkin kalau dalam konteks zaman sekarang Bang Oma ini adalah dewasa muda yang lagi giat-giatnya mencari eksistensi diri (ceileh!). Saya menonton film ini untuk pertama kalinya bersama kedua orang tua. Waktu itu saya sedang menghabiskan libur lebaran di Bogor setelah mudik. Karena di kosan yang lama ngga ada televisi, jadilah saya lumayan kegirangan menghabiskan libur dengan nonton televisi. Kebetulan saat itu salah satu televisi swasta nasional sedang menayangkan film-film jadul, termasuk "Berkelana".

Secara sinematografi mungkin film ini tergolong receh banget. Memang mohon dimaklumi karena film ini dibuat pada tahun 1980-an. Tapi dari segi cerita dan musikalitas (menurut saya) sih layak diacungi jempol. Baiklah, karena saya bukan pakar musik saya mau bercerita tentang makna ceritanya tapi dalam versi suka-suka. 

Sesuai judulnya, "Berkelana" ngga cuma berarti perjalanan Bang Oma secara harfiah: pindah dari satu tempat ke tempat lain. "Berkelana" juga membahas soal perjalanan batin Bang Oma yang terlihat santai tapi terjal. Alkisah Bang Oma (yang memerankan dirinya sendiri) adalah anak dari seorang pengusaha yang tajir melintir. Pada masa itu menjadi seorang sarjana adalah sebuah prestis karena kesempatan untuk mencicipi bangku kuliah yang memang terbatas. Bang Oma disebut sedang menempuh kuliah di jurusan ekonomi dan diharapkan untuk menyelesaikannya, sesuai dengan keinginan ayahnya. Bang Oma yang passionnya di bidang musik sebenarnya ogah-ogahan menyelesaikan kuliahnya. Tapi sebenarnya kita ngga pernah tau apakah di tahap itu Bang Oma udah mulai nge-skripsi apa belum, karena bisa jadi Bang Oma cuma merasa salah jurusan di tahun terakhir. 

Konon Pak Subrata, tokoh ayah dari Bang Oma di film ini, ngga suka dengan tabiat anak lakinya yang memilih untuk bermusik karena bermusik itu haram. Konflik bapak-anak yang isinya mempermasalahkan musik ini ngga kunjung selesai. Puncaknya, Pak Subrata merusak gitar kesayangan Bang Oma. Ngga selesai di situ, Pak Subrata juga mengusir Bang Oma dari rumah.

Bang Oma, yang di film diceritakan tinggal di Bandung, sesungguhnya adalah representasi anak muda yang dari zaman ke zaman permasalahannya sama aja, begitu pula konflik klasik antara orang tua dan anak. Semua anak muda pernah berada dalam masa mencari jati diri, tapi sayangnya ngga semua orang tua mau peduli dengan fase ini. Bedanya zaman Bang Oma main film ini bajunya masih kemeja gombrong yang dipadukan dengan celana cutbray, tak lupa rambut kriwil yang jadi ciri khasnya. Mungkin kalo zaman sekarang Bang Oma baju-bajunya bermerek Uniqlo, yang potongannya mencerminkan filosofi zen ala Jepang.  

Kisah fiktif ini sebenarnya pelajaran untuk tiap generasi, tapi kok kayaknya selalu dilupakan ya. Awalnya saya pikir permasalahan passion anak versus desire orang tua ini hanya ada di abad 21, zaman yang katanya zaman edan. Eh tunggu, tapi dari dulu orang selalu bilang kalo, "sekarang zamannya zaman edan" kok. Mengapa awalnya saya pikir permasalahan semacam ini hanya ada di abad 21? Sebab orang-orang bilang kalau anak-anak zaman sekarang susah nurut lah, banyak ngide, 'tercemar'. Lho, bukankah generasi sekarang itu produknya generasi sebelumnya? Ups. Intinya sih menurut saya semua orang pernah muda, tapi ngga semua orang ingat bagaimana rasanya. Sayangnya komunikasi anak dan orang tua ngga selalu lancar karena tiap perbedaan pola pikir: orang tua mau anaknya selamat sentosa lancar jaya, sedangkan anak muda maunya percaya caranya sendiri.

Omong-omong, selamat menjalankan shaum Ramadan!

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)