May 24, 2018

CIREBON LAGI


Pembaca lama blog ini mungkin tahu kalau saya pertama kali ke Cirebon pada tahun 2012 dengan teman-teman SMA saya. Trip yang bukan dadakan itu kami rencanakan dengan agak detail. Ya maklum, namanya juga ABG. Awal tahun 2015 saya kembali mengunjungi Cirebon bersama keluarga saya karena mama belum pernah ke sana. Saat itu kami dalam perjalanan dari Yogyakarta dan kembali ke Bogor, tetapi melalui jalur Semarang. Namun rupanya kami berkunjung di waktu yang kurang tepat karena saat itu sedang ada penyelenggaraan Sekaten yang membuat jalan ke Keraton Kasepuhan padat dan sesak. 

Awal tahun ini sobat saya yang sama-sama tinggal di Bandung, Inas, tiba-tiba mengajak saya untuk pergi ke Cirebon. Inas ini emang bakat nge-random, jadi apapun bisa dibayangkan dan dilakukan. Berbekal keisengan, kami berangkat ke Cirebon dengan dalih weekend getaway. Awalnya kami berniat untuk naik kereta, tapi ternyata ngga ada jadwal yang cocok, jadilah kami naik bus. Perjalanan Bandung-Cirebon kurang lebih memakan waktu empat jam dengan pemandangan yang ngga cinematic. Tidur, bangun, tidur, bangun lagi, eh masih di Kabupaten Sumedang. Sepanjang jalan ya pemandangannya cuma bukit-bukit kehijauan tapi tidak seindah jalur Puncak yang menghubungkan Bogor-Cianjur. 

Menjelang pukul dua belas siang kami tiba di Cirebon tapi no clue mau turun di mana. Karena mengincar empal gentong H. Aput yang katanya tersohor dan enak itu, kami berhenti di sebuah perempatan yang ngga jauh dari kedai empal gentong. Saya yang bercita-cita jadi pescetarian dengan tidak mengonsumsi daging sapi akhirnya kalah dengan godaan bernama empal gentong. Ampun.

Kelar dengan perkara empal gentong, Inas dan saya bergegas menuju tempat penginapan. Cirebon yang luar biasa panasnya karena terletak di daerah pesisir membuat kami sedikit berleha-leha ketika pendingin suhu di kamar sudah menyala. Setelah beristirahat, saya dan Inas melanjutkan agenda dengan mengunjungi Keraton Kasepuhan dengan GO CAR karena spot yang kami tuju agak susah dijangkau dengan angkot. Lagipula ongkos GO CAR dari penginapan menuju Keraton Kasepuhan sama dengan ongkos naik angkot untuk dua orang. Kebetulan di Cirebon ini gampang banget nyari GO CAR, so don't worry. 

Dibandingkan tahun 2015, Keraton Kasepuhan yang sekarang menurut pendapat saya ngga seindah dulu. Kereta kencana yang tadinya dipamerkan ngga jauh dari bangunan utama justru digeser ke sebuah bangunan baru yang jalan penghubungnya ditumbuhi rerumputan liar. Wisatawan juga tidak diperbolehkan untuk masuk ruangan yang ada singgasananya. Di ruangan yang saya maksud ini dekorasinya sebenarnya unik. Jadi di sekeliling tembok dihiasi oleh porselen-porselen berlukiskan sebuah cerita (yang saya lupa detailnya tentang apa) dari Cina. Karena penasaran dengan berbagai perubahan yang ada di keraton, saya bertanya ke penjaga. Beliau hanya berkata "ya tergantung sultannya, mbak". Baiklah. 
Ya tergantung sultannya, mbak
Cirebon ngga bakal seru kalo muterin Keraton Kasepuhan doang, maka kami juga berkunjung ke Keraton Kanoman. Lagi-lagi kami naik GO CAR karena alasan efisiensi. Nah rute ke Keraton Kasepuhan ini agak ajaib sebenarnya. Bagi orang yang pernah belajar urban design, biasanya kawasan yang memiliki nilai keistimewaan yang tinggi seperti kawasan keraton maka akan ditata seikonik mungkin agar ciri kawasan tersebut dapat dirasakan dengan kuat. Contohnya adalah kawasan Malioboro yang merupakan bagian dari sumbu imajiner yang terhubung ke Keraton Ngayogyakarta. Sayangnya hal ini ngga tampak di Keraton Kanoman. Untuk mencapai kawasan keraton pengunjung malah harus melalui kawasan pasar yang identik dengan kesemerawutan. Berbeda dengan Malioboro yang kawasan pedestriannya benar-benar ditata dan menimbulkan kesan lapang, pasar yang terdapat di akses menuju Keraton Kanoman ini kesannya benar-benar menutupi kawasan keraton.

bagian dari gapura Keraton Kanoman

Mengelilingi Keraton Kanoman sebenarnya perkara yang sangat mudah karena tapak situsnya yang ngga terlalu luas. Lagipula luas area yang bisa diakses pengunjung tidak lebih luas jika dibandingkan di Keraton Kasepuhan. Di sini kami bertemu seseorang, yang entah ditunjuk sebagai pemandu atau penjaga keraton, yang memandu kami mengelilingi Keraton Kanoman. Ternyata selain bagian depan yang mirip dengan rumah pak camat di pedesaan yang super luas, di belakang keraton masih ada museum. Setelah selesai keraton tour, kami menunggu GO CAR menuju penginapan di sebuah bale yang terletak tidak jauh dari gerbang keraton. Si pemandu tadi bercerita tentang kenangan festival keraton ketika Cirebon menjadi tuan rumahnya. Dari cerita beliau, saya sebenarnya menangkap kalau di para orang yang terkait dengan keraton-keraton di Cirebon ini punya romansa tentang masa kejayaan, tapi mengenangnya dengan cara yang serba canggung. Dalam asumsi saya, Cirebon ini pengen banget mengembangkan sektor pariwisata dengan keraton sebagai atraksi utamanya cuma serba bingung dalam mengidentifikasi langkah-langkahnya.

Menjelang maghrib kami beranjak ke penginapan. Rencana selanjutnya adalah kulineran lagi sambil jalan-jalan ke kota tua-nya Cirebon, apa daya hujan turun cukup lama. Karena dua anak manusia ini masih lapar, kami akhirnya mencoba untuk legowo dengan mencicipi nasi jamblang yang terletak di dekat penginapan. Sebenarnya ngga ada yang luar biasa dari nasi jamblang selain nasi dan aneka lauk pauk yang disajikan di atas daun jamblang. Ngomong-ngomong kalo ada netizen yang penasaran mengapa tidak ada foto makanan padahal setengah dari agenda ke Cirebon adalah wisata kuliner, jawabannya cuma satu: Inas dan saya ngga bakat buat jadi food blogger karena begitu makanan datang, ya langsung dicicipin.

Keesokan harinya kami melaksanakan rencana semalam yang tertunda. Lagi-lagi dengan menggunakan GO CAR kami menuju kota tua. First impression? Ngga beda jauh dengan kompleks kota tua Semarang, tapi masih kalah cantik meskipun kategorinya tetap walk-able kok. Kami hanya berfoto-foto di sini sampai ngga sengaja menemukan permata tersembunyi berupa nasi lengko. Bisa dibilang nasi lengko adalah versi Cirebon dari pecel, cuma ngga pake sambel kacang. Komponen utamanya sayuran rebus dan tempe yang dicacah lalu diberi kecap. Lauknya terserah apa aja.

Keraton checked, makanan checked. Saatnya pulang!

2 comments:

  1. Omg kak ga bilang-bilang kalau ke Cirebon hahaha.
    Selamat menikmati Cirebon! Jangan lupa wisata kulinernya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf hehe... ini dadakan bgt nuu ;)
      hopefully i'll be back there again for another culinary trip again<3

      Delete

don't spam, please use nice words :)