May 25, 2018

KITA, FILM, DAN MAAF


Suatu hari seorang teman yang sudah berkawan dengan saya sejak SD mengirim pesan singkat yang sebenarnya bukan obrolan kami sehari-hari. Teman saya ini bercerita tentang betapa mudahnya orang-orang di zaman sekarang mencari pembenaran dari pendapatnya melalui media sosial. Beda dikit, dipost; kolom komentar isinya pesan-pesan yang mengajak tubir alias ribut. Kalau di kalangan orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas mungkin ranahnya via grup Whatsapp, pada orang-orang yang seumuran dengan saya terjadi di LINE (dan terkadang di Instagram). Media sosial memang bikin terlena: di sisi lain mendekatkan yang jauh, tapi di sisi lain juga mengenyangkan ego kita karena apapun yang kita pikirkan bisa kita unggah seketika. 

But that's not my bottom line. Here's another story. 

Semalam, maksudnya benar-benar menjelang tengah malam, lini masa media sosial saya seolah-olah ramai dengan perdebatan di antara netizen yang curhat mengenai pemeran Minke yang terpilih. Minke ini bisa dikatakan tokoh yang diagungkan karena pesonanya dan pemikirannya yang jauh melampaui pemikiran pemuda saat itu. Ngga sedikit juga netizen yang ngga rela kalau Bumi Manusia difilmkan karena mereka ingin Minke, Annelies, dan tokoh-tokoh lainnya hanya hidup di dalam khayalan. Isu lain yang menjadi polemik adalah soal aktor terpilih. Konon aktor ini katanya terlalu muda, kurang dapet kharismanya, kurang jowo, dan segala alasan lainnya. Ada pula netizen yang menyoroti rumah produksi yang akan memproduksi film Bumi Manusia yang bisa diibaratkan sebagai sebuah industri yang memang berorientasi profit saja. Sementara netizen lain juga kecewa karena sutradara yang akan menggarap film tersebut dianggap ngga pantas karena karya sebelumnya dianggap gagal. Singkatnya, semua netizen ribut.

Ngga, gue ngga ikhlas si anu meranin ini

Dalam dunia perfilman di Indonesia (dan sepertinya di manapun) mungkin hal tersebut wajar-wajar saja. Sederhananya, satu produk, satu keputusan, memang pada dasarnya ngga bisa memuaskan selera banyak orang. Titanic yang begitu dipuja pun juga ngga bisa dibilang bagus oleh semua orang. The Dark Knight yang mungkin membuat penonton kecewa bisa jadi ngga membuat kecewa penggemar scoring film. The Shape of Water yang bikin orang ogah nonton karena terlalu nyentrik malah memenangkan penghargaan bergengsi. 

Itu semua masih di ranah perfilman. Seandainya kita tarik semua tadi ke kehidupan sehari, coba bayangkan ada berapa banyak orang yang diremehkan karena kesan pertama atau masa lalunya? Ada berapa orang yang gagal memaafkan karena udah eneg dengan kelakuan orang yang membuat salah? 

Mungkin itu alasan kita terobsesi dengan kesempurnaan tapi malah terkalahkan olehnya. 

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)