May 5, 2018

TWO AND THREE


Semakin ke sini rasanya hidup di antara semakin absurd dan nyata. Saya menyadari bahwa akhir-akhir ini saya mendapatkan hal yang sebenarnya pernah saya inginkan (termasuk urusan sekolah) tapi akhirnya saya ikhlaskan, eh ujung-ujungnya diberi ketika sudah tidak menginginkannya lagi. Saya pernah memimpikan kampus yang sekarang dahulu sekali ketika masih di pertengahan masa SMA. Bertahun-tahun kemudian saya menjalani hidup yang cenderung normal saja: menyelesaikan jenjang S-1 dan mempersiapkan S-2 di luar negeri. Saya mendaftar ke berbagai kampus tetapi kemudian tidak diterima. Di sisi lain saya masih amat mengejar profesi idaman saya versi dewasa: menjadi peneliti. Lucunya pada saat yang sama pula terbesit keinginan untuk tinggal di Bandung. Demi impian menjadi peneliti, saya memutuskan untuk S-2 di dalam negeri saja, toh saya juga ingin bergeser haluan dan menguasai medan dalam negeri. Akhir tahun lalu saya diterima di kampus ini.

Last year I decided to end up my relationship with my significant other for (almost) the past three years. Perkara ini ngga usah dibahas panjang lebar. Saya senang dengan keputusan untuk menyudahi perjalanan ini untuk kesehatan mental saya. I don't want to push myself too hard, too, for this kind of thing. Perhaps I'd let myself free without any commitment for another year, or at least until I'm mentally ready. I'm also glad that my parents do not push my for this kind of thing. 

For the past six months I learned some 'adult' things: from taking care of my mental health, being responsible for some bill, commuting, to realizing the bitter-sweet world. Bersekolah dengan orang-orang yang ngga seumuran, bahkan selisih umurnya belasan tahun membuat saya sadar kalau afirmasi yang pernah saya terima benar-benar berharga. Saya pikir atmosfir hospitality yang saya terima di Surabaya memang wajar dan bisa dicari di tempat lain, tapi ternyata tidak seperti itu juga. Hari-hari ketika beradaptasi dengan kehidupan di Bandung saya habiskan dengan menyeimbangkan antara menjalin pertemanan dengan orang-orang yang baru saya kenal dengan sesekali bertemu dengan teman-teman yang saya kenal sejak SMA atau S-1.

Setahun ke belakang saya juga diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya idamkan ketika sudah tidak begitu mengidamkannya. I guess it already become my nature, huh? Setelah menyelesaikan sidang ujian tugas akhir di bulan Juni 2017, bulan Agustus saya mengunjungi Semarang, Batu, dan Padang. Dari semua itu perjalanan yang paling berkesan adalah ke Batu bersama teman-teman selab. Awalnya kami hanya berencana pergi ke Malang untuk mengunjungi rumah dosen pembimbing kami, tetapi rencana tersebut kemudian bergeser menjadi ke Batu dan Malang sekaligus. It was the funniest day of my life with them. Perjalanan ke Padang pun ngga kalah seru sebenarnya. Ibu saya menghadiahi trip ini sebagai hadiah kelulusan saya. Sure, my heart melts. Agenda selama di Padang pun tipe jalan-jalan yang Jennie banget: kombinasi antara jalan kaki dan cicip-cicip makanan.

Memasuki tahun 2018 saya mencoba untuk kembali belajar menjadi pescetarian. Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin menjadi pescetarian, tapi ya gagal melulu (bahkan sampe sekarang). Kadang saya juga ngga konsisten antara pescetarian dan ovo-lacto vegetarian. Motivasi saya ngga muluk-muluk kok. Karena sempat mengambil kelas pembangunan berkelanjutan, saya jadi lebih berpikir tentang jejak karbon yang dihasilkan dari daging yang kita makan. Alasan lain: saya ngga tahan dengan bau daging sapi, termasuk kaldunya. Menjadi pescetarian sejauh ini menyenangkan meskipun tersandung beberapa kali karena salah pesan kebab dan ngga tahan dengan godaan buat makan empal gentong. Mungkin lain kali saya membuat tulisan khusus tentang ini.

Pada akhirnya bertambah tua ngga sedih-sedih amat. Saya (mencoba) legowo memasuki umur baru ini. Ada banyak hal baru untuk dijalani dan dimaknai. Adulting is hard, but I have to go through it. 

Selamat menua, Jennie!

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)