June 24, 2018

MAGANG KEDUA - 1


Ceritanya saya punya hutang tulisan dari November atau Desember lalu tentang pengalaman magang yang saya jalani setelah wisuda. Pengalaman ini bagi saya sih lumayan penting, karena jauh lebih serius, walaupun ngga kalah seru, dibandingkan magang pertama yang saya jalani di Yogyakarta pada tahun 2016. Tulisan ini akan saya bagi menjadi dua atau tiga bagian supaya tidak terlalu panjang. So, let's start the story. 

Pada akhir Juli menjelang Agustus 2017 saya sempat benar-benar galau mau lanjut kerja ke mana. Ya wajar sih buat bocah akhir perkuliahan tingkat sarjana. Teman-teman saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Saya, yang terinspirasi dari blognya Alanda Kariza, berniat untuk menerapkan tipsnya untuk urusan berburu pekerjaan: apply early. Cuma ada satu detail yang saya lupa. Setelah nego macam-macam dengan orang tua, saya sepakat untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan Studi Pembangunan ITB tapi di bulan Januari, karena untuk intake Agustus saya ngga bisa karena belum memiliki ijazah serta masih ingin mengambil gap time dengan alasan penyegaran suasana. Ibu saya awalnya menyarankan menggunakan gap time untuk melakukan apapun yang saya suka, alias semacam liburan sebelum S-2 dimulai karena pasca sidang ujian saya belum benar-benar mendapatkan istirahat (iya, proyekan dengan dosen). 

Tapi bukan Jennie yang namanya kalau ngga ngide. Kondisinya saya waktu itu cukup ngambis. Saya pengen banget punya pengalaman kerja yang mumpuni karena ngga ada pernah ikut proyekan di Semester 7. Praktis pengalaman kerja saya cuma mengandalkan magang wajib, asisten editor tamu untuk seminar CITIES, dan jadi teaching assistant selama 3 semester. Sekali lagi bagi saya ini belum cukup, terlebih saya udah ngga pengen jadi dosen. Maunya jadi peneliti. Baiklah, pilihan jatuh untuk menjadi staf magang dengan periode Oktober-Desember 2017, karena perkuliahan di ITB dimulai pada awal bulan Januari 2018. 

Awal Agustus 2017 saya mulai rajin membuka situs devjobsindo. Ini adalah website yang memasang lowongan pekerjaan yang berhubungan dengan bidang development, khususnya oleh NGO. Ada beberapa peluang magang yang cocok dengan keinginan dan kualifikasi saya. Pokok e jodoh. Daftar tuh satu per satu. Saya memang sengaja memilih lokasi di Jabodetabek supaya ngga usah memikirkan perkara ngekos lagi.  Perkara daftar-mendaftar selesai, tapi kok ngga semua email saya dibalas ya? Saya yang udah hopeless akhirnya memilih untuk legowo aja. Mungkin disuruh istirahat dulu sebelum kuliah lagi. Lucunya ketika saya udah ngga mau mendaftar lagi, saat itu sehari sesudah wisuda, ada email masuk dari salah satu lembaga penelitian di Jakarta yang isinya saya diterima menjadi staf magang untuk periode yang saya inginkan. 

FYI, semua lamaran magang saya kirim via email. Entah bagaimana, setiap email yang saya kirim itu badan emailnya berbeda-beda. Ada yang cuma menanyakan perihal apakah ada posisi untuk staf magang atau sekaligus menyatakan keinginan untuk menjadi staf magang plus attachment CV. Tapi mayoritas yang saya kirim adalah tipe yang kedua. Di badan email saya juga menceritakan pengalaman-pengalaman kerja saya sebelumnya.

Seneng ngga? Seneng dong.
Setelah menjawab persetujuan dari calon kantor, saya sempat beberapa kali berkomunikasi dengan staf admin. Saya kemudian diminta untuk datang ke calon kantor untuk melakukan semacam wawancara singkat dengan koordinator penelitian. Kebetulan dalam waktu dekat saya ada agenda di dekat calon kantor, jadi yoweslah sekalian aja ke sana pada hari yang sama. Selama wawancara dengan koordinator penelitian kami berdiskusi dengan latar belakang pendidikan saya, topik pekerjaan yang saya minati, termasuk soal jam kerja dan beberapa aturan bagi staf magang.

Kunjungan pertama ke kantor cukup sukses membuat saya jatuh cinta dengan tempat yang akan saya kunjungi setiap hari selama dua bulan. Sore itu meskipun hujan saya pulang dengan hati gembira. Ngga tau apa yang akan terjadi dalam dua bulan ke depan. 

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)