June 28, 2018

POLA BELAJAR BARU


Bulan Mei lalu secara resmi semester pertama saya sebagai mahasiswa S-2 resmi berakhir. Saya cukup lega dengan hasilnya, meskipun ada yang bikin dongkol di awal tapi pada akhirnya seharusnya disyukuri aja daripada menambah beban hidup. Semester pertama di sekolah baru memberikan saya cukup banyak sudut pandang baru dan perubahan pola hidup, termasuk pola belajar yang harus saya kejar. Di tulisan kali ini saya ingin bercerita tentang bagaimana pola belajar yang saya terapkan. 

Bagi teman-teman yang belum tahu, saya mengambil program studi Studi Pembangunan untuk S-2 setelah menyelesaikan S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota. Saya mengambil jurusan ini dengan banyak pertimbangan (dan pergulatan batin), tetapi singkatnya saya menjatuhkan pilihan pada Studi Pembangunan karena saya ingin mempelajari lebih banyak hal terkait pembangunan tetapi tidak hanya dari segi spasial seperti pada jenjang sebelumnya. Jurusan saya juga memiliki pendekatan multidisiplin dibandingkan jurusan serupa di Indonesia yang cenderung menggunakan pendekatan ekonomi.

Sebagai ilustrasi, kegiatan kuliah saya hanya berlangsung dua hingga empat hari dalam satu pekan. Dalam sehari saya berkegiatan di kampus sejak pukul delapan pagi hingga lima sore. Setelah kuliah saya akan membeli makanan atau langsung pulang dan masak untuk makan malam. Jika tidak ada kuliah hari itu maka waktu di pagi hari akan saya manfaatkan untuk olahraga (berenang atau lari), lalu dilanjutkan dengan mengerjakan tugas atau belajar di siang hari. Sore hari terkadang saya keluar kos untuk menyegarkan suasana dengan membeli kopi atau sekedar membeli camilan di supermarket terdekat. Tapi ada kalanya juga ketika saya harus mengerjakan tugas sejak siang hingga malam hari.

Kegiatan sehari-hari seperti itu memang cenderung lebih individualis jika dibandingkan ketika masa-masa S-1. Positifnya adalah saya memiliki kontrol lebih penuh atas jadwal kegiatan sehari-hari saya, tetapi negatifnya kadang-kadang saya merasa kesepian. Nah, imbasnya adalah pergantian pola belajar yang mau tidak mau saya terapkan sebagai respon atas situasi yang saya hadapi.

MANFAATKAN SILABUS

To be honest, saya seringkali meremehkan silabus saat S-1. Bagi saya silabus ngga lebih dari giliran presentasi berkelompok atau jadwal kuliah tamu. Tapi saat S-2 silabus lebih penting, terlebih karena ada banyak sekali reading list yang harus dikejar agar bisa mengikuti materi di kelas dengan baik. Semester lalu saya memanfaatkan silabus sebagai panduan untuk belajar materi yang akan didiskusikan pada pekan berikutnya. Misalkan pada pekan ke-8 akan ada diskusi mengenai kegagalan pasar, maka pada pekan ke-7 atau kira-kira 3 hari sebelum perkuliahan tentang topik tersebut saya akan membaca bahan bacaan terkait.

MEMILIKI TEMAN BELAJAR

Meskipun tugas-tugas selama S-2 banyak yang dikerjakan secara berkelompok seperti ketika S-1, proporsi tugas individu pun tetap banyak. Semester lalu saya mengikuti sebuah mata kuliah berjudul Dinamika Sistem untuk Pembangunan, yang mana mata kuliah ini memiliki tugas mingguan. Sebenarnya tidak ada kewajiban untuk mengerjakan tugas mingguan, hanya saja tugas-tugas tersebut sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman mengenai materi yang sudah diajarkan di kelas dan menjadi bekal untuk UAS. Bagi saya mata kuliah ini terbilang cukup susah karena kompleksitasnya. Metodenya pun gabungan kualitatif dan kuantitaf, belum lagi tuntutan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Salah rumus atau satuan sedikit maka simulasi tidak dapat dijalankan.

Karena saya tetap ngotot untuk mengerjakan tugas mingguan mata kuliah tersebut, saya yang awalnya sempat mencoba mengerjakan tugas-tugasnya secara individu memutuskan untuk belajar secara berkelompok. Secara teknis saya memang tetap menganalisisnya sendiri, tetapi dalam proses pengerjaannya saya berdiskusi dengan teman-teman. Kegiatan diskusi ini ini membantu saya untuk menyelesaikan soal yang rumit maupun menambah pengetahuan teknis saya. Bonusnya adalah saya memiliki 'alarm hidup' yang sering mengingatkan saya secara tidak langsung untuk segera menyelesaikan tugas.

MONOLOG DENGAN ARTIKEL ILMIAH

Tips ini aslinya saya sadur dari kepala program studi. Suatu hari di kelas beliau bercerita tentang cara belajar beliau ketika studi S-3. Bagi beliau membaca aja ngga cukup. Beliau menandai reading materialsnya dengan highlighter dan seringkali membuat catatan kecil untuk mengkritisi hal-hal yang beliau baca. Karena penasaran dengan cara seperti itu, saya memutuskan untuk mencobanya. Ternyata cara ini cukup berhasil untuk saya. Saya juga memodifikasi cara ini dengan menambahkan catatan tapi dalam bentuk yang lebih terstruktur di binder. Saat ini saya pun menggunakan cara yang sama untuk menginventarisasi bahan bacaan untuk penyusunan tesis. Metode ini setidaknya menstimulus saya untuk lebih mendalami bahan bacaan yang saya baca dan membantu saya untuk mengarahkan referensi berikutnya yang harus saya cari.

MERENCANAKAN DETAIL TUGAS BESAR

Jurusan saya bisa dibilang hampir tidak mengadakan UAS (Ujian Akhir Semester) tetapi menggantinya dengan tugas besar yang sifatnya seperti dummy project. Kisi-kisi tugas besar sudah diumumkan sejak akhir bulan pertama perkuliahan, meskipun tidak selalu eksplisit. Untuk memperjelas target yang harus dicapai maka saya dan teman-teman sekelompok mencoba mendiskusikan detail pekerjaan yang mencakup target, luaran tugas, informan, teknik analisis, waktu pengerjaan, dsb. Meskipun ada kalanya target seperti ini melenceng, tapi memiliki milestone yang jelas (bisa didetailkan hingga setiap sesi nugas kelompok) sangat membantu untuk mencapai target.

Well, that's all. Semoga pengalaman saya ini dapat membantu teman-teman dalam memberikan gambaran bagaimana pola belajar mahasiswa S-2, khususnya yang mempelajari ilmu sosial. Barangkali teman-teman juga ada yang tertarik untuk menceritakan pengalaman belajarnya? Yuk share ;)

1 comment:

don't spam, please use nice words :)