July 8, 2018

BELAJAR MENJADI PESCATARIAN


Halo!
Berbeda dari tulisan-tulisan sebelumnya yang berkutat di topik adulting journey atau catatan tentang menjadi mahasiswa pasca sarjana, kali ini saya ingin menceritakan tentang percobaan kesekian saya menjadi pescatarian. Mungkin kata 'pescatarian' masih kalah pamor dan jarang terdengar dibandingkan vegetarian. Saya pun sebenarnya mengetahui pola makan pescatarian ini dari blog A Beautiful Mess yang saya ikuti semenjak SMA. Well, secara singkat pescatarian adalah pola makan yang mengonsumsi sayuran, produk olahan susu, telur, dan ikan. 

Percobaan pertama saya menjadi pescatarian dimulai pada tahun 2016. Saat itu saya masih kuliah di Surabaya. Kebetulan di jurusan saya terdapat kantin. Nah di kantin itu ada lapak yang menjual bakso. Tidak sedikit dari teman-teman saya yang menggemari bakso tersebut, termasuk aroma kaldunya. Namun saya justru mengalami kondisi sebaliknya. Aroma kaldu bakso yang terbuat dari daging dan tulang sapi justru mengganggu saya hingga saya merasa mual. Awalnya saya pikir mungkin saya memang tidak menyukai aroma kaldu bakso kantin jurusan saja. Tetapi kejadian yang sama terulang ketika saya mencium aroma kaldu sapi di tempat-tempat lain. Saya menceritakan masalah ini kepada ibu saya. Dari situ juga saya menceritakan kepada ibu saya bahwa saya ingin mencoba menjadi pescatarian. 

Perjalanan awal menjadi pescatarian terasa mulus saja sampai saya bosan dengan protein nabati. Ketika saya masih tinggal di Surabaya, tempat tinggal saya tidak memiliki dapur. Praktis, saya hanya memiliki sedikit opsi untuk memenuhi pola makan saya. Ada sekian kali jatuh bangun, termasuk godaan berupa daging ayam dan daging sapi. Dari kedua bahan makanan tersebut daging ayam adalah godaan terbesar bagi saya karena saya terlanjur terbiasa dengan tekstur dan cita rasa daging ayam. Keluarga besar saya juga memiliki kebiasaan menghidangkan olahan daging sapi pada acara-acara spesial. Di titik ini saya merasa rasanya susah banget konsisten menjadi pescatarian karena saya masih bergantung sekali dengan keluarga saya, termasuk adanya kewajiban tidak tertulis untuk menghadiri acara keluarga besar dan acara makan-makannya. 

Long story short, saya pindah ke Bandung pada awal tahun 2018 karena kuliah lagi. Kepindahan saya ke kota ini menjadi semangat untuk belajar hal-hal baru, termasuk pola hidup yang lebih sehat. Saya merasa fasilitas yang ada di sini menjadi peluang yang baik untuk memulai pola hidup yang saya cita-citakan. Di Bandung saya tinggal di rumah kos yang memiliki fasilitas dapur dan kulkas. Selain itu ada fasilitas olahraga yang lengkap dekat tempat tinggal saya. Rasanya udah ngga ada excuse lagi.

Memulai percobaan kesekian menjadi pescatarian adalah perkara gampang-gampang susah. Seberapa banyak video di YouTube dan konten blog yang dibaca ngga akan mengubah apapun kalau ngga ada keinginan yang kuat. Untuk ukuran orang yang ngga jago masak seperti saya ada kalanya rasa bosan menghampiri karena masakan yang bisa saya buat memang itu-itu aja. Belum lagi ada peringatan untuk membatasi konsumsi ikan karena potensi kandungan merkurinya. Kalau sudah begini kadang saya menyerah.

Saat ini saya belum bisa dibilang menjadi pescatarian seutuhnya karena masih mengonsumsi daging ayam dan daging sapi pada saat-saat tertentu. Ya, saya masih belajar menjadi pescatarian. Ada beberapa saat ketika saya benar-benar gagal menjadi pescatarian karena masih craving daging ayam atau daging sapi, maupun karena menghadiri acara yang memang hanya menghidangkan menu-menu non-pescatarian. Dibandingkan pola makan yang lain menurut saya pescatarian ini masih paling cocok bagi saya sejauh ini. Dalam seminggu saya bisa berolahraga 3-4 kali, sehingga ngga jarang tubuh saya demanding protein hewani. Jujur sampai sekarang pun saya belum tau kapan saya bisa menjadi vegetarian, karena menjadi pescatarian pun terkadang masih terasa berat.

Wish me luck!

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)