LEUWI LIEUK

July 12, 2018



Berawal dari janji motret air terjun Maribaya di Bandung bareng Sigit yang tertunda karena kondisi badan yang kurang fit saat itu, saya ngide lagi mengajak Sigit berburu foto di Curug (air terjun) Leuwi Lieuk. Personil kami untuk hari itu bertambah satu, yaitu Adit. Sebenarnya kami bertiga sudah lama sekali mewacanakan motret bareng, tapi belum terlaksana karena jadwal yang ngga klop melulu dan beda domisili. Oh ya, mereka bertiga ini teman SMA saya, meskipun waktu SMA kami ngga deket-deket banget kecuali urusan ekskul. 

Kami berangkat dari Bogor kurang lebih pukul 5.30 pagi dengan harapan akan mendapatkan sunray. Tapi karena kami sempat nyasar kami baru sampai di tempat parkir objek wisata ini pukul 6.30. Beberapa hari sebelumnya saya sempat membaca beberapa ulasan di blog yang ditulis oleh orang-orang yang pernah berkunjung ke Leuwi Lieuk. Semua ulasan menyatakan bahwa diperlukan trekking sekitar 20 menit dari lokasi parkir menuju spot foto. Durasi 20 menit sebenarnya terbilang gampang jika medannya naik turun. Tapi yang kami lakukan justru jauh dari ulasan-ulasan tersebut.

Untuk mencapai spot paling ujung kami berjalan kurang lebih selama 45 - 60 menit dengan kondisi berpuasa, artinya ngga bisa minum atau makan, dan beristirahat selama 2 kali. Menurut Sigit sih jarak yang kami tempuh kurang lebih 1,5 km. Akses untuk mencapai spot terakhir juga terbilang sangat seadanya. Perkerasan dari beton hanya tampak selama 300 m dari gerbang yang lalu dilanjutkan dengan perkerasan alami alias tanah. Naik turunnya pun ngga kira-kira menurut saya. Ada segmen yang tanjakannya ekstrem lalu tidak diikuti keberadaan bordes untuk sekedar meluruskan kaki, namun ada juga turunan yang masih terbilang ramah. Kami juga harus menyeberangi aliran sungai yang dangkal sebanyak 2 kali. Karena kaki bolak-balik nyemplung saya menyarankan teman-teman yang akan berkunjung ke sana untuk mengenakan sandal gunung dibandingkan running shoes karena akan merepotkan ketika harus menyeberangi sungai. 

Dari 4 spot yang kami lewati, kami hanya memotret air terjun di spot ketiga dan keempat. Dari kedua spot itu hanya spot terakhir yang paling sensasional menurut saya. Tapi kalau secara keseluruhan mungkin bisa dibilang aliran air di Leuwi Lieuk ini termasuk kecil, arusnya pun ngga membahayakan. Nah, pada spot ketiga ini diperlukan sedikit keterampilan untuk memanjat batu demi memotret air terjunnya dari dekat.

Kelar di spot ketiga, kami melanjutkan trekking ke spot keempat yang jaraknya terbilang dekat. Spot ini menurut saya yang paling bagus karena badan airnya lebar dan bebatuannya mendukung untuk meletakkan tripod sekaligus untuk duduk. Kami berada di spot ini selama kurang lebih 2 jam. Mungkin karena puasa, pengunjung yang mencapai spot ini sangat sedikit. Selain kami bertiga juga ada seorang mas-mas yang membaca buku di pinggir badan air. Entah apa motivasinya membaca buku (dan berjemur) di pinggir curug yang susah banget dijangkau.

Karena semakin siang cahayanya semakin ngga ideal buat motret, ditambah kami sudah puas leyeh-leyeh di spot paling syahdu, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Saya merasa lumayan lega ketika memulai perjalanan kembali ke titik parkir berhubung lebih banyak turunan dibandingkan tanjakan. Sigit yang awalnya cocok mendapatkan predikat sebagai seksi rempong yang ogah kakinya basah atau nyeker akhirnya menyerah di etape terakhir. Good bye sepatu. Saya dan Adit yang dari awal memang merelakan kaki basah mendapatkan waktu leyeh-leyeh tambahan ketika menunggu Sigit mengeringkan kakinya sebelum melanjutkan segmen rute yang bisa ditempuh tanpa berbasah-basahan.

Rasanya terlalu munafik buat bilang kalau perjalanan hari itu ngga terasa. Tepar, bok. Entah pada pukul berapa kami sampai ke tempat parkir. Seharusnya kami menunaikan solat dzuhur di sana, tapi karena ngga ada lokasi yang sip kami berkendara sebentar ke Sentul untuk mencari masjid sekaligus untuk istirahat lagi sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.  

You Might Also Like

0 COMMENTS

don't spam, please use nice words :)