July 4, 2018

NGETENG KE WAY KAMBAS



Inas dan saya udah keseringan berkhayal tentang main ke tempat-tempat yang masih jarang jadi destinasi wisata top. Selain sering berkhayal, kami juga senang menandai tempat-tempat eksotik di muka bumi ini melalui aplikasi Google Maps. Kemudian karena entah dorongan magis seperti apa, kami pengen ke Lampung, tapi tepatnya ke Way Kambas, habitat si gajah sumatra yang menggemaskan itu. Kebetulan Inggar si anak Lampung aja belum pernah ke Way Kambas, jadilah Inggar ikut menjadi peserta tur ngeteng. 

Berbekal informasi dari netizen yang mengunggah cerita perjalannya ke Way Kambas dengan metode ngeteng, alias gonta-ganti angkutan umum, kami menyusun rencana yang terkesan mulus banget di atas kertas. Ternyata ada banyak perubahan situasi di lapangan yang mau ngga mau harus kami terima. 

PERJALANAN KE WAY KAMBAS

Saya dan Inas tiba di Bandar Lampung pada Sabtu pagi setelah menempuh perjalanan darat dan laut menggunakan armada bus DAMRI. Kami istirahat sebentar di rumah Inggar sebelum melanjutkan perjalanan ke Way Kambas. Pukul 10.00 WIB kami bergegas ke Terminal Bus Rajabasa dengan menaiki GOCAR. Seharusnya dari Terminal Bus Rajabasa kami melanjutkan perjalanan dengan bus DAMRI jurusan Rajabasa-Way Kambas. Namun saat itu ternyata ada perubahan jadwal. Jika kami tetap memaksakan kehendak, kami baru bisa berangkat ke Way Kambas sore hari sekitar pukul 14.30. Sebagai alternatif, kami akhirnya naik bus PO. Pelita Jaya yang di kepala busnya terdapat tulisan "CANDRA". Bus ini memiliki tujuan akhir Lampung Timur. 

Perjalanan dari Way Kambas dari Terminal Rajabasa memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan kondisi medan yang lumayan mulus, tetapi sangat mulus jika dibandingkan medan ke Teluk Kiluan. Oh ya, bus yang kami tumpangi sebenarnya bukan bus yang bisa dibilang bagus-bagus amat. Saya justru suka menyebutnya dengan bus dangdut karena ornamen interiornya memang meriah banget, jika memang tidak dapat dikatakan sedikit norak. Bus ini mayoritas mengangkut orang-orang yang pulang berbelanja dari Bandar Lampung, jadi mohon dimaklumi kalau muatannya variatif: dari panci baru, barang elektronik, sampai daun singkong dalam karung. Ujung-ujungnya pilihannya hanya ada satu: nikmatin aja perjalanan sejauh 90-an km ini dengan tarif sebesar Rp25.000. 

Siang hari, kira-kira menjalang pukul 13.00 WIB kami turun di Simpang Tridatu. Dari sini kami harus melanjutkan perjalanan dengan menumpang ojek yang dijalankan oleh warga lokal. Tetapi sebelum masuk ke wilayah hutan, kami membeli makanan dan minuman untuk persediaan selama bermalam. Perlu diketahui bahwa warung-warung di Pusat Latihan Gajah hanya buka sampai pukul 17.00 WIB, sehingga lebih baik untuk membawa logistik dari luar. Di Simpang Tridatu ada Indomaret serta ATM BNI dan BRI. Teman-teman juga bisa makan siang di sekitar sini juga karena ada beberapa warung yang menyediakan menu nasi, mie goreng, dan soto. Saya dan Inggar membeli seporsi bakso seharga Rp15.000, sedangkan Inas membeli mie Ayam seharga Rp10.000. 

MASUK KE WILAYAH SEKOLAH GAJAH

Ketika makan siang di warung mie ayam, ada seorang bapak-bapak yang kira-kira berumur 40 tahunan yang menawari kami jasa ojek ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas dengan tarif Rp120.000 untuk perjalanan pulang-pergi. Karena ngga bisa dinego, tawaran tersebut kami ambil. Tarif tersebut memang berlaku PP karena keesokan paginya kami memang akan dijemput sesuai dengan kesepakatan. 

Tiga puluh menit adalah waktu yang kira-kira dibutuhkan untuk mencapai PLG dari Simpang Tridatu. Sepanjang perjalanan dengan durasi setengah jam itu kami melewati desa penyangga Way Kambas yang didominasi oleh permukiman berkepadatan rendah, perkebunan singkong, dan perkebunan karet, sebelum akhirnya masuk ke wilayah Taman Nasional Way Kambas. Di wilayah TN Way Kambas selain ada PLG juga ada Suaka Rhino (Rhino Sanctuary), namun hanya PLG yang boleh dikunjungi oleh pengunjung umum. 

Setiba di PLG kami langsung menuju Wisma Mahout, nama tempat kami menginap. Dua minggu sebelumnya kami sudah mereservasi tempat penginapan ini melalui Pak Pal, seorang mahout (pawang gajah) yang kontaknya kami temukan di beberapa blog. Tarif yang dikenakan adalah sebesar Rp300.000 per kamar per malam, yang mana setiap kamar bisa diisi hingga enam atau bahkan sepuluh orang. Di setiap kamar disediakan dua bed yang lebar (ukuran queen size kalau tidak salah), 1 karpet, 1 meja, 2 kursi, 1 kipas angin, dan 1 lemari dengan 4 kabinet yang bisa dipasangi gembok (tetapi gembok tidak disediakan). Selain itu ada fasilitas kamar mandi serta dapur dan peralatan masak yang digunakan secara bersama-sama dengan tamu atau penghuni wisma yang lain. Biasanya ada anak-anak jurusan kedokteran hewan yang melaksanakan koas di rumah sakit gajah Way Kambas. Nah selama koas mereka juga tinggal di Wisma Mahout. 

Menjelang sore hari kami melihat para mahout memandikan gajah yang mereka asuh. Kebetulan lokasi pemandian gajah ini di depan penginapan. Sebenarnya dari teras Wisma Mahout juga cukup untuk menyaksikan para gajah berendam di kolam. Selanjutnya kira-kira pada pukul tiga sore dengan didampingi Pak Pal kami menjelajah savana sekaligus menjemput gajahnya untuk dimandikan. Di savana ini para gajah digembalakan sepanjang hari. Kami diberitahu bahwa pengunjung reguler, yaitu pengunjung yang tidak menginap atau memiliki izin khusus, sebenarnya tidak diperkenankan masuk savana karena mereka tidak didampingi oleh mahout. 


Keistimewaan lain yang kami dapat dengan menginap di Way Kambas adalah kami diperbolehkan masuk ke kandang gajah. Setiap sore para gajah ini akan kembali masuk ke kandangnya setelah dimandikan. Awalnya saya kira yang dimaksud dengan kandang gajah adalah sebuah area yang diberi atap dan pagar. Ternyata kandang gajah di PLG adalah sebuah lapangan yang diberi patok untuk setiap gajah. Di samping setiap patok terdapat pula sebuah bak untuk menampung air minum gajah. Ketika sedang berjalan di dalam kandang gajah ini Pak Pal menawari kami untuk menunggang gajah. Awalnya kami merasa ngeri-ngeri sedap, ya campuran perasaan antara takut tapi kapan lagi kami bisa menunggang gajah dengan sensasi yang berbeda. Elephant riding di sini berbeda dengan yang ditawarkan di area wisata Way Kambas karena kami langsung duduk di punggung gajah tanpa alas karet busa. Posisi startnya pun beda. Jika di area wisata wisatawan naik dengan menggunakan fasilitas tangga, yang kami lakukan adalah memulainya dari posisi gajah yang duduk. Rasanya seperti ada sensasi rodeo.

Teman-teman yang memiliki waktu yang lebih leluasa juga bisa mengikuti trekking dengan gajah. Durasi yang ditawarkan pun variatif, yaitu setengah jam dan satu jam. Tarifnya adalah Rp150.000 untuk setengah jam dan Rp250.000 untuk satu jam. Selain itu ada trekking di malam hari yang kalau tidak salah tarifnya adalah Rp300.000. Untuk informasi lebih lanjut dan reservasi teman-teman dapat menanyakannya ke Pak Pal.

Malam harinya kami bersantai di teras penginapan. Maksud hati ingin membalas chat, apadaya sinyal hanya terdapat di samping kandang gajah. Begitu pula yang dialami oleh teman-teman baru kami yang menghuni kamar sebelah. Ujung-ujungnya kami ngobrol bareng di teras sambil menikmati angin dan suara jangkrik.


GOOD BYE, WAY KAMBAS

Pukul 07.00 WIB keesokan harinya kami dijemput oleh Pak Emen dan kawan-kawannya sesama pengojek untuk mengejar jadwal keberangkatan bus DAMRI jurusan Way Kambas-Rajabasa. Tapi jadwal keberangkatan kami sedikit molor karena kami belum menyelesaikan sarapan Indomie paling dahsyat ditambah pemandangannya adalah gajah dan matahari terbit. Setelah molor kurang lebih setengah jam kami akhirnya berangkat menuju pool DAMRI Way Kambas. Di spot ini pula kami janjian dengan Pak Pal untuk mengembalikan kunci karena kebetulan pada hari itu Pak Pal tidak piket. Kami juga memberikan uang tip kepada Pak Pal.

Bus yang kami naiki seharusnya tiba pukul 09.00 WIB. Namun karena ada perubahan jadwal, bus baru tiba tiga puluh menit kemudian. Rupanya perubahan jadwal hari itu juga berdampak terhadap volume penumpang di bus yang penuh banget. Kami tidak mendapatkan tempat duduk, tetapi untungnya duduk di lantai bus bukan perbuatan yang terlarang. Perjalanan selama tiga jam (lagi) dari Way Kambas menuju Rajabasa sebenarnya lebih nyaman dengan bus DAMRI karena lebih bersih dan ber-AC. Memang ada perbedaan dari segi tarif juga. Untuk tarif DAMRI dari Way Kambas menuju Rajabasa kami dikenakan Rp100.000 untuk tiga orang. Dua jam kemudian, kira-kira menjelang masuk kota Metro jumlah penumpang berkurang secara signifikan. Di sini pula kami berhasil mendapatkan tempat duduk yang semestinya.

Siang itu setelah tiba kembali di kota Bandar Lampung kami menutup sesi jalan-jalan kali ini dengan makan pindang dan sop jagung ayam di Pindang Riu. Rasanya lega karena kami berhasil menyelesaikan satu episode ngeteng!

----
Catatan:
Nomor Pak Pal: 0813-6909-4913
Beliau dapat dikontak via telepon atau Whatsapp

2 comments:

don't spam, please use nice words :)