August 17, 2018

CATATAN DARI SUMMER CAMP ITB

foto tentang air, supaya sesuai dengan temanya | Sumber: Unsplash

So, it's been a month without any blogpost. Rasanya aneh karena beberapa bulan sebelumnya saya memang rajin menulis lalu kemudian menghilang, tapi ada perasaan senang juga karena sempat melewati beberapa momen yang cukup mengubah pikiran. Sejak awal bulan Agustus hingga sebelas hari kemudian saya mengikuti acara Summer Camp yang diadakan oleh SAPPK (Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan) ITB, fakultas (tepatnya sekolah sih) tempat program studi saya bernaung. Acaranya seru banget untuk orang semacam saya yang cinta rutinitas. Dibandingkan nilainya secara materil, jujur ada terlalu banyak pesan moril yang bisa dibawa pulang. 

Motivasi saya mengikuti Summer Camp awalnya receh banget: saya udah lumayan bosan mencicil tesis, plus kabar mengenai magang yang simpang siur. Main juga udah. Mau ngajak temen kongkow, kok rasanya mustahil karena sebagian besar dari mereka sudah bekerja. Karena harapan untuk mengikuti magang sudah hampir mendekati nol persen mengingat bulan Agustus semakin dekat, akhirnya saya mendaftar acara ini. Tahun ini ada dua lokasi yang ditawarkan, yaitu Cisoka (Kabupaten Sumedang) dan Rancaekek (Kabupaten Bandung). Cisoka rasanya terlalu sayang untuk diabaikan mengingat silabusnya adalah empat hari materi studio dan lima hari tinggal di Cisoka. Setelah selesai mengumpulkan formulir saya kemudian diberitahu bahwa kuota peserta untuk lokasi Cisoka sudah penuh. Akhirnya saya dialihkan ke tim kedua yang akan belajar di Rancaekek. Ekspektasi saya ngga banyak karena yaa sesimpel pindah tim. Cuma dasar budak yang mau untung, seketika saya merasa senang lagi ketika mengetahui bahwa saya bisa mentransfer 2 SKS. 

Aslinya tema Summer Camp ITB tahun ini tentang air. Bukannya belajar 100% tentang air, saya justru belajar banyak hal di luar tema kegiatan ini. Singkatnya Summer Camp bagi saya pribadi adalah ajang untuk merefleksikan seabrek pengetahuan yang telah saya dapatkan selama delapan semester kuliah perencanaan wilayah dan kota serta satu semester studi pembangunan. Here we go. 

REFLEKSI TENTANG RUANG TERBUKA PUBLIK

Dari zamannya saya mengikuti orientasi keprofesian sewaktu masih mahasiswa baru S1 sampai menjelang lulus S-1, gaung tentang ruang publik ngga pernah absen disuarakan. Rasanya ngga perlu susah-susah menghafalkan persentase ideal ruang terbuka hijau juga karena terlalu sering jadi bahan presentasi. Setiap survei yang sifatnya komprehensif pun keberadaan ruang publik ngga boleh terlepas dari amatan. Perspektif pembahasan mengenai ruang terbuka publik pun macam-macam, dari segi morfologi kota, desain yang kece ala-ala jurusan rancang kota, sampai ke aspek sosialnya. Lengkap sudah. Tapi tapi tapi karena saya kuliah di Jawa Timur dan sedikit banyak belajar tentang sosial budaya Jawa, pengetahuan saya soal ruang terbuka publik sebenarnya bisa dibilang kalau ngga jawa-sentris karena pengaruh dari perkuliahan, yaa sekalian Jabodetabek-sentris karena pengaruh domisili asal. 

Selama minggu pertama Summer Camp saya dan teman-teman setim diberi kesempatan untuk menjelajah dan merasakan berbagai ruang terbuka publik yang ada di Bandung. Kami mengunjungi Koridor Braga, Teras Cikapundung, Hutan Kota Babakan Siliwangi, Alun-alun Cicendo, Taman Balaikota, Alun-alun Regol, Alun-alun Ujung Berung, dan puncaknya adalah Alun-alun Bandung. Semua tempat tadi masih terletak di Bandung, tapi 'rasa' dan teksturnya berbeda-beda. Ngomong-ngomong soal alun-alun, selama ini yang ada di pikiran saya tentang penataan alun-alun adalah suatu fasilitas sosial yang ditata dengan prinsip macapat. Alun-alun seperti ini mudah ditemui di area dengan kebudayaan Jawa. Prinsip Macapat mengatur bagaimana alun-alun ditempatkan di tengah alias sebagai titik sentral. Nah di sekelilingnya terdapat masjid agung, penjara, pasar, kampung yang dinamakan Kauman, dsb. Karena terlanjur familiar dengan gaya alun-alun seperti itu, sontak saya bertanya tentang ketidaksamaan yang sama temui dengan apa yang selama ini saya ketahui. Ujung-ujungnya satu: sepuluh tahun tinggal di wilayah Priangan ternyata belum cukup untuk memahami budaya Sunda. 

REFLEKSI TENTANG DAYA BELI

Selama di Rancaekek dan Cijerah kami diberi tantangan untuk membeli bahan makanan dengan nominal uang yang merepresentasikan daya beli masyarakat setempat yang kebanyakan bekerja di sektor informal dengan penghasilan tak tentu. Setiap kelompok, yang mana terdiri dari dua atau tiga orang, diberi Rp20.000. Uang tersebut harus dipakai untuk membeli bahan makanan yang sehat (di luar nasi) untuk sebuah keluarga yang terdiri atas empat orang. Oh ya, kami berbelanja di pasar tradisional setempat, bukan di Supermarket. Sebagai makhluk bumi yang mengakui dirinya sebagai pecinta Supermarket dengan segala kemudahannya, tantangan seperti ini berhasil menyadarkan saya kalau Rp20.000 bisa jadi nominal yang sangat berharga. 

Di Rancaekek saya setim dengan Mbak Yuti, kakak kelas di studi pembangunan. Kami harus melakukan role play sebagai dua orang anak yang berbelanja untuk keluarga kami yang juga terdiri dari dua orang lansia. Lantas, apa yang bisa dibeli dengan uang senilai Rp20.000? Ternyata uang segitu cukup untuk membeli tempe sepapan dan tahu sebungkus sebagai sumber protein, kacang panjang, minyak goreng, bawang merah, bawang putih, kecap, dan sedikit ikan asin. Sepulang belanja dari Pasar Rancaekek saya teringat bahwa uang dengan nominal yang sama adalah pegangan sehari-hari para asisten rumah tangga yang bekerja di perumahan di tempat tinggal saya. Seringkali mereka membeli paket sayur sop seharga kurang dari Rp10.000 yang isinya sudah ada kol, wortel, daun bawang, kentang, dsb meskipun jumlahnya hanya sedikit. Ternyata uang yang sama bisa digunakan untuk membeli bahan makanan bergizi, tapi belum tentu cukup untuk nongkrong dengan segelas es kopi susu. 

REFLEKSI TENTANG TRANSFER ILMU

Rasanya sejak SMA saya lumayan familiar dengan istilah 'transfer ilmu', terlebih jika dikaitkan dengan pembangunan industri di sebuah wilayah yang terbilang belum tersentuh peradaban industri. Transfer ilmu dianggap sebagai hal yang baik ketika industri diperkenalkan ke wilayah baru. Memang sih ngga jauh-jauh dari cita-cita mulia untuk memajukan peradaban (yang sesuai dengan konteks urban).

Di Summer Camp ini saya dan teman-teman sesama peserta belajar untuk membuat prototipe penjernih air yang nantinya akan dibuat dalam skala yang lebih besar untuk menjernihkan air limbah dari fasilitas MCK di sebuah workshop berkebun di Rancaekek. Saya beruntung dapat berpartner dengan Nida, seorang mahasiswi S2 jurusan Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi. Kami menggabungkan pengetahuan praktis saya berdasarkan pengalaman membuat penjernih air seukuran toples kerupuk sewaktu SMP plus pengetahuan teoritis Nida yang memang belajar tentang air bersih secara formal. Siang hingga menjelang sore hari pada hari kedua di Rancaekek pun kami habiskan dengan membuat protipe untuk penjernih grey water. Proses pembuatannya sebenarnya seru-seru aja karena memang material yang digunakan tidak begitu banyak sehingga proses pencuciannya tidak terlalu memakan waktu. Beberapa teman memang sempat tidak percaya bahwa material untuk penjernih air harus dicuci hingga benar-benar bersih karena proses seperti ini seems like forever.  Setelah semua material selesai disusun dan bak sedimentasi selesai kami buat, kami menguji prototipe penjernih air yang kami buat dengan air sawah. Hasilnya? Air sawah yang telah disaring terlihat lebih bersih secara kasat mata alias prototipe kami berhasil dong. Yayness!

Seminggu kemudian kami kembali ke Rancaekek untuk aksi final project Summer Camp. Kami mendirikan MCK lengkap dengan filtrasi air. Bahan utama untuk membangun MCK adalah bambu yang dilapisi kamprot (semen yang ditabok itu lho). Kembali lagi ke perkara penjernih air, awalnya saya pikir paralon yang akan digunakan paling tidak berukuran 1 m lah. Eh taunya untuk filtrasi grey water ukuran paralon yang digunakan adalah sepanjang 180 cm. Dua puluh cm kurang sedikit dari tinggi badan saya. Proses pencucian bahan pada hari pertama berjalan baik-baik saja karena yang mengerjakan adalah peserta dan fasilitator yang memang sudah terlibat pada pembuatan prototipe. Pada hari kedua masalah timbul: material yang sudah kami siapkan ternyata belum cukup untuk mengisi paralon. Masih kurang kira-kira 40 cm sebelum dapat ditutup dengan busa. Alamak, harus nyuci bahan lagi nih. Karena ada teman-teman dari Karang Taruna yang ikut membantu konstruksi MCK pada hari kedua, kami juga ingin berbagi ilmu tentang pembuatan penjernih air. Saya mendapat tugas untuk mempraktekkan cara mencuci material pengisi hingga bersih. Ternyata hal beginian ngga semudah mengucapkan 'transfer ilmu'. Saya perlu beberapa kali meyakinkan mereka bahwa semua material pengisi harus dicuci hingga bersih agar air yang akan difilter pun keluar dengan kondisi lebih jernih. Mungkin mata mereka mencuci batu kerikil, zeolith, pecahan batu bata, dsb adalah hal yang sangat kurang kerjaan, mirip dengan yang saya pikirkan ketika kelas 7 SMP. 

Karena perkara penjernih air ini saya ngga hanya merekam ulang memori saya tentang hal yang pernah saya pelajari satu dekade lalu, tapi saya juga belajar aspek teoritisnya dari Nida. Seorang teman dari jurusan Arsitektur bernama Raushan juga ngga sengaja menemukan cara yang lebih simpel untuk mencuci batuan dengan menggunakan ember bolong. Saya juga belajar melatih kesabaran saya yang udah hampir setahun ngga pernah melakukan kegiatan belajar-mengajar lintas umur.

Last but not least, terima kasih kepada SAPPK ITB yang udah memberikan saya kesempatan untuk mengikuti Summer Camp 2018. Terima kasih juga untuk para instruktur dan fasilitator atas ilmunya yang super berharga.

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)