BERLARI SENDIRI

October 28, 2018


Sebelumnya saya sering menganggap bahwa memiliki teman yang bisa diajak 'berlari' bersama adalah sebuah hal yang alami dan ngga butuh banyak usaha untuk mendapatkannya. Namun, akhir-akhir ini saya justru saya disadarkan oleh semesta kalau hal tadi yang saya dapatkan di jenjang sarjana sebetulnya adalah sebuah keistimewaan yang entah kapan akan terulang lagi. Mungkin saya dengan mudahnya bisa saja saya menyalahkan orang-orang yang sudah atau menempuh pendidikan magister atas sikap mereka yang tidak pernah berbagi cerita tentang hal ini. Tapi kok rasanya ngga adil ya? Memang wajar sih, karena ada orang-orang tertentu yang hanya mau membagikan cerita yang terkesan baik-baik saja agar tidak dianggap mengeluh. 

Oke, cukup dengan basa-basinya. Mari berbicara tentang persoalan utamanya. Saat ini saya sedang menjalani semester kedua dari tiga semester program magister saya. Semester pertama berjalan baik-baik saja dengan sedikit batu sandungan. Karena banyak proyek pembelajaran yang dikerjakan secara berkelompok, saya ngga punya waktu untuk mengeluh tentang bekerja sendiri. Ya, saya menikmati prosesnya, mulai dari wawancara, observasi, sampai menyusun materi paparan capaian pekerjaan. Keadaan berubah di semester kedua. Ada banyak tugas yang dikerjakan secara individu. Saya yang notabene menikmati ritual nugas, entah kenapa, merasa semester ini adalah kesempatan untuk mengaktualisasi berbagai pemikiran saya yang bisa digabungkan dengan tugas kuliah. Nugas sendiri pun seharusnya bukan jadi masalah karena saya bisa berkuasa penuh atas apa yang ingin saya kerjakan.

Berbekal insting manusia yang hidup di abad ke-21 dan punya dependensi terhadap mesin pencarian daring, saya iseng-iseng mencoba berselancar untuk mencari tahu tentang fenomena yang sedang saya alami. Jawabannya sebenarnya tidak mengherankan. Saya ternyata mengalami suatu hal yang wajar. Di usia segini, selepas lulus jenjang sarjana dan orang-orang mulai menentukan arah hidupnya sendiri - termasuk mereka yang memutuskan untuk kembali ke bangku sekolah- merasa sendiri bukanlah hal yang asing. Rupanya saya termasuk di antara orang-orang yang mengira kehidupan sosia di jenjang pasca sarjana tidak jauh berbeda dengan jenjang sarjana.

Awalnya saya memang sempat berasumsi bahwa dengan tren yang ada saat ini, yaitu banyak anak muda yang memulai jenjang pasca sarjana, saya tidak akan menemui hambatan yang berarti terkait kehidupan sosial saya. Namun saya lupa bahwa jurusan saya saat ini tidak menawarkan fastrack, sehingga peluang saya mendapatkan teman-teman baru yang benar-benar seumuran mendekati nol. Hal ini ditambah ketidak tahuan saya terhadap program saya yang juga menerima mahasiswa yang dibiayai oleh dua kementerian negara ini, yang artinya mereka bisa jadi sepuluh tahun lebih tua dari saya.

Cepat atau lambat saya memang harus menerima keadaan ini. I personally believe that acceptance is the key for a better mental health. Di sisi lain Tuhan mungkin memang mau mengingatkan saya untuk mensyukuri apa-apa yang pernah saya dapatkan ketika masih di Surabaya. Selama empat tahun itu saya dipertemukan dengan orang-orang baik yang selalu ada dan bisa diandalkan tanpa banyak kata. Ada saja teman yang bisa diajak untuk membicarakan perkara receh sampai rumit, mengerjakan tugas meskipun beda kelompok dan beda topik bahasan, atau sekedar makan bersama selepas kuliah.

Oh, jangan-jangan ini maksud dari "maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?"

You Might Also Like

0 COMMENTS

don't spam, please use nice words :)