April 20, 2019

CATATAN DARI PANGALENGAN


Enam hari tinggal di rumah sewaan di Pangalengan, yang menghadap ke Situ Cileunca, mungkin tidak akan pernah cukup untuk mengenal wilayah pegunungan di sisi selatan Bandung ini. Ini bukan kali pertama kali saya berkunjung ke Pangalengan, tetapi mengunjungi wilayah yang sama dengan misi yang beda tentu meninggalkan kesan tersendiri.

Pada pertengahan bulan Oktober 2018 yang sudah menampakkan aroma musim penghujan, saya dan tujuh belas kawan lainnya yang tergabung dalam satu kelompok mata kuliah studio berangkat menuju Pangalengan dengan misi yang sedikit mulia, tetapi juga sedikit sengklek. Seperti perkuliahan di jenjang sarjana, tentu kami harus melaksanakan survei studio. Lalu sengkleknya dimana? Oh, kami sudah berniat untuk menjajal rafting di aliran sungai yang terhubung dengan Situ Cileunca. Ngomong-ngomong, barangkali ada yang bertanya mengapa kelompok saya memilih Pangalengan sebagai kawasan studi. Tema studio kali ini adalah kebijakan publik untuk pengentasan kemiskinan di desa tertinggal di Provinsi Jawa Barat. Awalnya kami berniat untuk sedikit bertualang ke kabupaten lain. Namun apadaya karena harus menyesuaikan dengan kondisi teman-teman lain yang sudah berkeluarga dan tidak bisa menginap untuk jangka waktu yang agak lama, kami akhirnya memilih Kabupaten Bandung saja. Dibandingkan kecamatan-kecamatan lain yang masih memiliki desa tertinggal, Kecamatan Pangalengan mudah diakses dari Soreang, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung sekaligus tempat kami mengambil data-data untuk tingkat kabupaten.

Setelah berbagai huru-hara yang terjadi selama sebulan sebelum survei di lapangan kami akhirnya berangkat pada Senin, 15 Oktober 2018. Sebagaimana mahasiswa yang serius, kami sudah mencetak puluhan kuesioner dan lembar panduan wawancara, membeli dua kardus Indomie sebagai panganan selingan, dua kilogram lebih sedikit jajanan kiloan, satu pak Tolak Angin, dan menyiapkan sederet perlengkapan lainnya. Jadwal kerja dan partner survei pun sudah dibagi tiga hari sebelumnya. Saya merasa beruntung berpartner dengan Mas Haris yang tidak semata-mata hanya berbeda empat tahun lebih tua dari saya serta dapat berjalan kaki dengan cepat, tapi juga terorganisir dan terampil menyiapkan berbagai peralatan receh tapi penting.

NYASAR ADALAH SARANA MENERTAWAKAN DIRI

Hari pertama survei adalah hari yang super santai. Kami hanya presentasi dengan perwakilan SKPD di Soreang, yang kemudian kami lanjutkan dengan disposisi permintaan data dan izin wawancara dengan Dinas Lingkungan Hidup. Sore harinya kami melanjutkan perjalanan menuju penginapan di Pangalengan. Lumayanlah, ada sedikit jeda sebelum survei sesungguhnya dimulai.

Sesuai dengan jadwal kerja yang sudah kami sepakati, saya dan Mas Haris mendapat tugas untuk menyurvei rumah tangga miskin dan observasi lingkungan di RW 08. Berbekal peta dari kantor desa yang tidak disertai skala dan arah mata angin, saya dan partner saya melengang dengan penuh percaya diri ke wilayah yang dimaksud. Kami sebenarnya sempat ragu-ragu, tetapi kemudian seorang warga yang kami tanyai pun meyakinkan bahwa kami berjalan ke wilayah yang benar.

Ya salam, ternyata kami nyasar. Jauh sekali. Untuk kembali ke kantor desa dan berjalan ke wilayah awal rasanya juga kurang feasible. Setelah bernego-nego dengan kelompok lain, saya dan Mas Haris sepakat untuk menyurvei RW 05 alias tempat kami terdampar. Setelah perkara nyasar kelar, ternyata tidak ada pula yang bisa menjemput kami. Kira-kira selama hampir satu jam kami berjalan menyusuri jalan ke kantor desa dengan suasana yang luar biasa berkabut dan dalam kondisi belum makan siang karena kami tidak membawa perbekalan karena awalnya kami berasumsi akan ada warung. Sebenarnya konyol juga sih berharap ada warung di RW tersebut karena kan yang kami survei adalah permukiman warga pra-sejahtera. Toko kelontong yang kami temui hanya satu, itu pun jajanan yang dijual juga banyak yang kemasannya berdebu.


HATI-HATI DENGAN OMONGAN

Hari ketiga berjalan dengan baik-baik saja. Kami berdua tidak perlu mengelilingi Desa Sukaluyu untuk satu hari karena di hari itu kami mendapat giliran untuk mewawancarai informan di Kantor Kecamatan Pangalengan dan Dinas Lingkungan Hidup. Entah kenapa kesempatan tersebut rasanya mirip hari balas dendam untuk makan siang yang layak dan jajan. Sepiring lontong kari ayam di dekat kantor kecamatan dan sekotak kue lapis yang kami beli untuk makan bersama di penginapan sudah lebih dari cukup.

Pada hari keempat saya dan Mas Haris mendapatkan giliran untuk survei di RW 10. Wilayah ini cukup dekat dengan penginapan dan jalan raya. Kami yang sudah kapok memutuskan untuk makan siang (yang sedikit terlalu pagi) sebelum survei. Saya iseng-iseng bercelutuk, "mas, di wilayah kita kok ngga ada sapinya ya?" karena penasaran. Selama ini saya mengenal Pangalengan sebagai wilayah sapi perah. Informasi ini juga divalidasi oleh Oci yang sebelumnya sempat ke Sukaluyu dan memang mengatakan bahwa di desa kami ada sapi perah. Namun yang terjadi selama tiga hari saya belum melihat sapi perah di wilayah survei saya dan Mas Haris.

Eh ternyata di hari keempat kami harus berkeliling wilayah yang menjadi konsentrasi kegiatan sapi perah. Bagaimana rasanya?

Nano-nano, banyak rasanya. Ya begitulah. Sepanjang perjalana aromanya luar biasa. Belum lagi ditambah dengan bau kotoran sapi dan limbah peternakan lainnya yang ngga dikelola dengan baik.  Mayoritas peternak yang kami temui memang tidak mengelola limbah kotoran sapi dengan baik dengan alasan lahan yang mereka miliki terbatas. Alhasil limbah kotoran sapi hanya diserok ke luar kandang menuju saluran air. Pokoknya limbahnya ngga di pekarangan mereka deh. Setelah urusan kami mengobservasi dan mewawancarai para responden dan informan yang kami butuhkan kelar, kami bergegas kembali ke penginapan. Karena tidak tahan dengan bau yang sepertinya sudah melekat sekali di pakaian, saya segera mencuci semua baju saya dan mandi sesampainya di penginapan.

Urusan kami menyurvei area yang menjadi konsentrasi peternakan sapi perah ternyata tidak kelar di hari itu. Masih kurang sekian rumah dan foto titik pencemaran yang mau ngga mau baru kami bisa kerjakan Jum'at pagi karena pada Kamis sore kami sudah terlebih dahulu berencana mendokumentasikan kegiatan di lokasi penimbangan susu. Pada Jum'at pagi tepat pukul tujuh saya dan Mas Haris bergegas menuju area kerja kami hari itu. Untunglah matahari belum terik. Lumayan lah peluang saya misuh-misuh berkurang karena suasananya masih kondusif. Kami berdua kembali menelusuri sisa rute kemarin dan menambahnya dengan mendaki sisi bukit yang lain. Meskipun rute hari itu lumayan berat medannya, saya mendapatkan balasan yang sepadan: ngembil roti coklat dan leyeh-leyeh sebentar di antara kebun teh dengan pemandangan bukit yang kehijauan.

Siang hari setelah makan siang sembari menunggu Mas Haris berangkat solat Jumat saya mendapatkan waktu istirahat sekitar dua jam sebelum merekap hasil survei. Teman-teman yang lain sedang makan siang di kawasan sekitar kantor kecamatan. Saya, yang agak mungkin kelelahan, memutuskan untuk tidur-tiduran saja, entah sambil nonton dokumenter kuliner di YouTube atau mengamati media sosial. Tahu apa yang terjadi? Saya tertidur di ruang tamu penginapan selama hampir 30 menit, tapi serasa 2 jam

Ya Tuhan, rasanya itu tidur siang paling nikmat. 

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)