April 26, 2019

HAMPIR USAI


Jum'at ini adalah hari terakhir perkuliahan saya sebagai mahasiswa strata dua. Saya melenggang ke kampus dengan perasaan campur aduk. Senang iya, sedih iya, bingung iya. Sepanjang perjalanan sejauh tiga kilometer itu saya mencoba mengingat-ingat perasaan saya ketika memulai perjalanan ini, termasuk segala 'kerikil' yang ada.

Perjalanan, atau mungkin petualangan, untuk belajar di Bandung sesungguhnya tidak dimulai pada bulan Januari 2018. Ngga akan lah hal tersebut terjadi kalau saya tidak membuka laman pendaftaran program magister di kampus teknik tertua se-Indonesa ini sehari setelah saya diwisuda dari sebuah kampus teknik lainnya di Jawa Timur. Hampir semua berkas sudah saya miliki. Mungkin terlalu kebetulan. Setiba di Bogor saya pun memulai melanjutkan pengerjaan berkas-berkas pendaftaran tersebut. Pada pertengahan bulan Oktober semua berkas harus diunggah. Proses selanjutnya adalah tes, yang mengharuskan saya untuk pergi ke Bandung pada akhir bulan kesepuluh. 

Selama tiga puluh enam jam di Bandung itu saya juga bersua dengan beberapa kawan semasa kuliah di Surabaya dan satu orang lagi yang sudah saya kenal sejak 2010. Dalam versi yang paling melankolis, mungkin saya menduga kalau Tuhan ngga ingin saya sendiri di Bandung sampai kehabisan gaya. Siang hari sesudah solat dzuhur saya pergi untuk meninjau lokasi tes. "Oh ternyata ngga jauh lah," batin saya. Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung Planning Gallery. Di sana sudah ada Aga, Inggar, Fadli, Endy, dan Syara. Mereka berlima kebetulan sedang berlibur ke Bandung. Seusai berkeliling galeri dan menunggu hujan reda saya kemudian kembali ke penginapan. Ada waktu sekitar tiga jam sebelum saya berburu foto di kawasan Braga dengan latar suasana malam hari.

Malam itu saya banyak berbincang dengan kawan yang selama ini saya anggap kurang cocok untuk deep talk. Ternyata saya salah besar. Obrolan dengan orang ini, yang diselingi bubur ayam, kemudian menjadi pengingat saya atas ambisi-ambisi saya dalam versi yang sedikit lebih muda. Saya diingatkan secara tidak langsung tentang ekspektasi yang ada dalam pikiran saya. 

November 2017 saya memulai magang kedua saya sebagai asisten peneliti. Kelak ini adalah pengalaman yang membuka pandangan saya tentang riset yang praktis tetapi masih dalam koridor idealis. Saya pun dibuat makin jatuh cinta dengan dunia riset. Selama bulan November hingga akhir Desember 2017 itu saya menjadi bagian dari sekian banyak pekerja ulang-alik yang setiap harinya menempuh perjalanan Bogor-Jakarta dengan kereta rel listrik. Jauh lah dari kata romantis seperti yang terlihat di film-film. Hari terakhir saya magang adalah sehari sebelum saya akan berangkat daftar ulang. Sempat terbesit di pikiran saya untuk kembali barang sehari setelah daftar ulang untuk ikut merayakan makan siang perpisahan di kantor. Namun situasi saat itu tidak memungkinkan. Pada hari terakhir magang saya sempat menangis ketika berjalan dari kantor ke stasiun terdekat. Saya sempat berhenti di depan bangunan tak jauh dari stasiun yang pernah membuat saya sedih ketika SMA karena saya hampir memenangkan lomba yang saya impikan.

Hari pertama di bulan 2018 kemudian menjadi penanda bahwa saya mulai tinggal di Bandung. Setelah semalam mendengar riuh suara kembanga api yang dinyalakan para tetangga, saya berangkat ke Bandung pada pukul 8 pagi. Lima jam kemudian saya akhirnya tiba di rumah kos baru yang akan saya huni setidaknya untuk satu tahun yang akan datang. Hari pertama di hunian baru diisi dengan membongkar kardus-kardus berisi segala rupa barang yang diperlukan anak kos untuk bertahan hidup. Dua minggu sebelumnya, Bapak dan saya sudah terlebih dahulu pergi ke Bandung untuk mengantarkan kelima karuds tersebut, sekaligus untuk daftar ulang.

Perkuliahan pun resmi dimulai pada 2 Januari 2018. Semester pertama dimulai dengan empat mata kuliah wajib dan satu mata kuliah pengayaan untuk studio. Lantas, bagaimana perkuliahan saya? Secara umum, baik-baik saja. Namun secara khusus, oh tentu dong ada drama-drama yang terjadi karena perpindahan dari lingkungan yang kelompok umurnya cenderung seragam ke yang semakin heterogen, perbedaan ideologi dan prinsip kehidupan, dan hal-hal receh lainnya yang belum pernah saya duga sebelumnya.

Ada momen-momen yang membuat saya merasa dihargai sebagai manusia di luar kumpulan momen lain yang membuat saya frustasi. Saya senang ketika foto karya saya yang dipakai sebagai sampul presentasi studio dipuji oleh dosen, padahal foto itu saya ambil terburu-buru karena ide Novril. Ada kalanya saya merasa puas dengan hasil tulisan saya yang saya kerjakan sungguh-sungguh sampai kekurangan waktu tidur tetapi masih lolos dari revisi dosen dan dianggap layak sebagai tulisan yang mendekati sempurna versi beliau. Hal yang tidak kalah menyenangkan adalah ketika si anak kemarin sore ini keberadaannya benar-benar dianggap ada dan didengar suaranya, bukan sekadar manusia yang hanya ingin melankutkan kuliah.

Setelah semua perkuliah ini usai saya masih harus belajar untuk ujian pada awal mei, mengerjakan proyek individu yang setara dengan ujian, dan sidang tesis. Masih ada satu hingga dua bulan lebih sedikit sebelum saya patut berkata, "kelar juga nih S-2". Untuk yang pernah hadir dalam hidup saya dan menerima saya dalam berbagai versi, terima kasih. Semoga Yang Maha Pengasih membalas segala kebaikan kalian.  

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)