April 21, 2019

ON DREAMING TO BE AN ACADEMIA


Salah satu hal yang sering ditanyakan kepada saya adalah perihal cita-cita saya. Terlepas dari latar belakang salah satu orang tua saya yang menekuni bidang pendidikan, orang yang sudah tahu tentang hal tersebut juga masih menanyakan hal yang sama. But that's okay and I have no problem with it. 

Sebagian orang yang sudah membaca blog ini dari masa SMA saya yang dimulai dari tahun 2010 mungkin tahu kalau cita-cita saya saat itu hingga menjelang pendaftaran kuliah adalah menjadi desainer atau seniman. Mana pernah terlintas di pikiran saya untuk masuk ke fakultas teknik? Tapi dengan segala pertimbangan saat itu, saya memberanikan diri untuk mendaftar ke jurusan perencanaan wilayah dan kota. Pada bulan Juli 2013 saya diterima di PWK ITS melalui jalur SBMPTN. Sebuah perjuangan bagi orang yang menjalani kehidupan akademisnya semasa SMA dengan terseok-seok. 

Saya menjalani permulaan sebagai mahasiswa di jurusan PWK dengan biasa saja. Paling saya ingin memperbaiki kemampuan akademis saya karena saya sudah merasa cukup puas dengan menjadi sedikit "bandel" semasa tiga tahun di SMA. Pokoknya, saya pengen berhasil deh di kuliah ini. Saya juga ingin merasakan bagaimana menemukan kesenangan dalam belajar. 

Allah yang Maha Baik menakdirkan saya untuk bertemu dan diajar oleh dosen-dosen yang membuat saya nyaman selama perkuliahan. Mereka pula yang berkontribusi dalam menstimulus minat saya untuk menjadi akademisi. Serius deh, saya banyak berhutang sama mereka. Mungkin kalau tidak bertemu dengan mereka, mimpi saya akan nyangkut di situ-situ aja. Saya melalui perkuliahan dengan baik, meskipun prestasi saya terhitung standar. Nilai saya cukup untuk mendapatkan gelar impian sejuta umat: cum laude. Saya pun mendapatkan kesempatan sebanyak 3 kali untuk menjadi teaching assistant. 

Titik balik kedua saya selain bertemu dan diajar oleh dosen-dosen yang saya rasa mampu memahami saya adalah pengalaman mengajar sebagai teaching assistant. Kelas yang saya ajar adalah statistika terapan, studio perencanaan kota, dan metodologi penelitian. Memang ada sih sedikit mimpi untuk mencapai hal tersebut mulai dari semester kedua. Sekian lama memimpikannya, pada semester keenam lah saya untuk pertama kalinya mendapatkan mandat tersebut. Rasanya senang bukan main! Saya yang waktu SMA sering mengulang ujian dan bahkan harus memperbaiki nilai kumulatif malah bertahun-tahun kemudian mendapatkan kesempatan mengajar. Pengalaman saya yang kurang baik di bidang akademik semasa SMA ternyata menjadi pemicu saya untuk menyampaikan materi sesederhana mungkin. Beberapa kali juga saya menyediakan waktu asistensi tambahan.

Ada sensasi yang aneh setiap kali mengajar. Entah kombinasi merasa superior karena bisa berperan dalam menyampaikan ilmu, atau memang murni perasaan senang karena sudah berkembang dibandingkan masa rok abu-abu. Bisa juga perasaan yang menenangkan yang timbul karena eksistensi saya sebagai manusia dihargai. Sesederhana sekaligus serumit itu.

Saya bukannya tidak pernah bermimpi menjadi dosen. Justru itulah mimpi terwaras saya setelah dengan suka rela dan suka cita melepaskan ambisi menjadi desainer atau seniman lukis. Kebimbangan antara menjadi dosen muncul pada tahun terakhir kuliah. Sewaktu pendaftaran sebuah program master yang diselenggarakan oleh sebuah konsorsium terkemuka di Eropa pun saya menulis bahwa misi saya setelah lulus adalah kalau tidak menjadi dosen, ya menjadi peneliti. Ketidakjelasan ini saya anggap sebagai hal yang membuat saya gagal diterima selain karena pengalaman yang kurang. Namun karena kegagalan itu pula saya berani untuk menyatakan apa yang ingin saya lakukan selepas kuliah. Keputusan saya untuk menjadi peneliti saja datang karena sistem di Indonesia tidak mengakomodasi saya yang ingin lintas kelompok disiplin ilmu pada jenjang S-2 dan S-3 serta sistem rekrutmen yang agak absurd.

Di titik saat ini saya merasa bersyukur bahwa orang tua saya mendukung mimpi saya. Memang ada kalanya mereka salah paham, tetapi saya mencoba mengingat yang baik-baik saja daripada tambah pusing. Mereka mengizinkan saya untuk melakukan penelitian tesis di tempat yang jauh dari rumah. Ketika penelitian saya membutuhkan iterasi wawancara, merekapun dengan senang hati masih mau membiayainya sepenuhnya. Sebagai anak dari orang tua yang kuliah di bidang eksak, diam-diam ada perasaan bahagia kalau mereka menerima saya yang menempuh jalur setengah sains sosial. Saya pun sadar bahwa yang saya lakukan hari ini pun dipengaruhi oleh privilese yang saya punya dengan orang tua seperti itu. 

No comments:

Post a Comment

don't spam, please use nice words :)