SETARA

June 3, 2018

Sumber: Unsplash

Berawal dari salah satu anggota kelompok mata kuliah Tata Kelola Publik dan Demokrasi yang bekerja di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak serta tugas pertama mata kuliah ini tentang cuti melahirkan, saya dan teman-teman seringkali membicarakan isu tentang perempuan entah untuk perkara perkuliahan atau pun bagian dari selingan obrolan sehari-hari. Dosen saya pun sering memancing pembicaraan mengenai perempuan (tentu tidak dalam konteks yang sexist). Selain itu tulisan-tulisan tentang feminisme pun sering berseliweran di lini masa media sosial yang saya ikuti. Praktis, obrolan tentang perempuan tersangkut di pikiran alam bawah sadar saya. 

Sebagaimana prinsip gosip yang makin digosok makin sip, kelompok kami bertekad untuk membawakan topik presentasi yang asik untuk digosok. Dari dua kali presentasi yang diselenggarakan semester ini, presentasi terakhir mengenai konsep feminisme adalah topik yang paling menarik. Topik ini menurut saya sangat relevan dengan perkembangan dunia maya dan dunia nyata saat ini, terlebih negara kita memperingati Hari Kartini setiap tahun pada tanggal 21 April.

Dalam sebuah sesi diskusi menjelang presentasi, Mas Yogi yang memang suka membaca buku tentang feminisme, tiba-tiba nyeletuk tentang segmentasi pergerakan feminisme. Menurutnya, dari pergerakan feminisme yang ada para perempuan cenderung membela kaum yang segolongan dan memiliki kepentingan yang sama dengan mereka, tetapi masih mengabaikan perempuan-perempuan lain. Ya dengan kata lain sih artinya perempuan belum inklusif dalam menyusun gerakan mereka. Ibaratnya masih main geng-gengan. Kalau dicek berdasarkan literatur, pernyataan Mas Yogi memang benar adanya sih. Perempuan kulit putih membuat gerakan white feminist, sedangkan para perempuan negro juga membuat gerakan black feminist. Padahal masih sesama perempuan ya kan. Dalam kehidupan sehari-hari perkara seperti ini sebenarnya mudah dijumpai kok. Meskipun udah ada jargon "real woman empower each other", nyatanya perempuan gampang banget gelut dengan sesama perempuan (termasuk di media sosial). Mungkin pada dasarnya semua ini dimulai dengan sifat perempuan yang seneng ngomong, sehingga hal seremeh warna lipstik pun bisa dikomentari. Mulutmu memang harimaumu. 

Mungkin pada dasarnya semua ini dimulai dengan sifat perempuan yang seneng ngomong, sehingga hal seremeh warna lipstik pun bisa dikomentari. 

Sebenarnya feminisme ngga cuma soal perempuan. Laki-laki pun bisa menjadi feminis, karena pada dasarnya feminisme memperjuangkan kesetaraan, termasuk soal body shaming yang ngga cuma menimpa perempuan. Lagi-lagi karena balada media sosial yang jadi sarana paling asyik untuk memainkan jempol di atas layar, body shaming di dunia maya pun semakin lumrah. Kultur offline kita yang terbiasa dengan basa-basi menanyakan apapun yang seharusnya jadi pembahasan privat ikut terbawa ke ranah dunia maya. Kita sebenarnya ngga bisa serta-merta menyalahkan basa-basi, karena obrolan pembuka seperti ini adalah pintu untuk obrolan yang lebih serius. Bagian yang seharusnya disalahkan adalah topiknya. Apa iya kita perlu menanyakan perubahan fisik seseorang cuma dengan alasan basa-basi tanpa tahu perjuangan di baliknya?

Kok jerawatan? Kok kurusan? Ih gemuk deh, jadi gemes. 

Masih terkait soal kesetaraan, saya beberapa kali mendengar omongan teman-teman saya yang laki-laki yang intinya menyatakan kalau perempuan memang menuntut kesetaraan, perempuan seharusnya juga berhenti menuntut keistimewaan, termasuk soal remeh-temeh seperti ladies parking. Namanya juga ideologi, wajar aja menurut saya kalau ada yang berbeda pendapatnya. Cuma menurut saya setara ngga selalu berarti mendapatkan yang sama persis, tapi justru mendapatkan yang sepadan. Orang yang sakit dan membutuhkan asupan karbo yang lebih tinggi juga ngga bisa disamakan dengan atlet yang lebih membutuhkan protein kan? 

KITA, FILM, DAN MAAF

May 25, 2018


Suatu hari seorang teman yang sudah berkawan dengan saya sejak SD mengirim pesan singkat yang sebenarnya bukan obrolan kami sehari-hari. Teman saya ini bercerita tentang betapa mudahnya orang-orang di zaman sekarang mencari pembenaran dari pendapatnya melalui media sosial. Beda dikit, dipost; kolom komentar isinya pesan-pesan yang mengajak tubir alias ribut. Kalau di kalangan orang-orang yang berusia 40 tahun ke atas mungkin ranahnya via grup Whatsapp, pada orang-orang yang seumuran dengan saya terjadi di LINE (dan terkadang di Instagram). Media sosial memang bikin terlena: di sisi lain mendekatkan yang jauh, tapi di sisi lain juga mengenyangkan ego kita karena apapun yang kita pikirkan bisa kita unggah seketika. 

But that's not my bottom line. Here's another story. 

Semalam, maksudnya benar-benar menjelang tengah malam, lini masa media sosial saya seolah-olah ramai dengan perdebatan di antara netizen yang curhat mengenai pemeran Minke yang terpilih. Minke ini bisa dikatakan tokoh yang diagungkan karena pesonanya dan pemikirannya yang jauh melampaui pemikiran pemuda saat itu. Ngga sedikit juga netizen yang ngga rela kalau Bumi Manusia difilmkan karena mereka ingin Minke, Annelies, dan tokoh-tokoh lainnya hanya hidup di dalam khayalan. Isu lain yang menjadi polemik adalah soal aktor terpilih. Konon aktor ini katanya terlalu muda, kurang dapet kharismanya, kurang jowo, dan segala alasan lainnya. Ada pula netizen yang menyoroti rumah produksi yang akan memproduksi film Bumi Manusia yang bisa diibaratkan sebagai sebuah industri yang memang berorientasi profit saja. Sementara netizen lain juga kecewa karena sutradara yang akan menggarap film tersebut dianggap ngga pantas karena karya sebelumnya dianggap gagal. Singkatnya, semua netizen ribut.

Ngga, gue ngga ikhlas si anu meranin ini

Dalam dunia perfilman di Indonesia (dan sepertinya di manapun) mungkin hal tersebut wajar-wajar saja. Sederhananya, satu produk, satu keputusan, memang pada dasarnya ngga bisa memuaskan selera banyak orang. Titanic yang begitu dipuja pun juga ngga bisa dibilang bagus oleh semua orang. The Dark Knight yang mungkin membuat penonton kecewa bisa jadi ngga membuat kecewa penggemar scoring film. The Shape of Water yang bikin orang ogah nonton karena terlalu nyentrik malah memenangkan penghargaan bergengsi. 

Itu semua masih di ranah perfilman. Seandainya kita tarik semua tadi ke kehidupan sehari, coba bayangkan ada berapa banyak orang yang diremehkan karena kesan pertama atau masa lalunya? Ada berapa orang yang gagal memaafkan karena udah eneg dengan kelakuan orang yang membuat salah? 

Mungkin itu alasan kita terobsesi dengan kesempurnaan tapi malah terkalahkan olehnya. 

CIREBON LAGI

May 24, 2018


Pembaca lama blog ini mungkin tahu kalau saya pertama kali ke Cirebon pada tahun 2012 dengan teman-teman SMA saya. Trip yang bukan dadakan itu kami rencanakan dengan agak detail. Ya maklum, namanya juga ABG. Awal tahun 2015 saya kembali mengunjungi Cirebon bersama keluarga saya karena mama belum pernah ke sana. Saat itu kami dalam perjalanan dari Yogyakarta dan kembali ke Bogor, tetapi melalui jalur Semarang. Namun rupanya kami berkunjung di waktu yang kurang tepat karena saat itu sedang ada penyelenggaraan Sekaten yang membuat jalan ke Keraton Kasepuhan padat dan sesak. 

Awal tahun ini sobat saya yang sama-sama tinggal di Bandung, Inas, tiba-tiba mengajak saya untuk pergi ke Cirebon. Inas ini emang bakat nge-random, jadi apapun bisa dibayangkan dan dilakukan. Berbekal keisengan, kami berangkat ke Cirebon dengan dalih weekend getaway. Awalnya kami berniat untuk naik kereta, tapi ternyata ngga ada jadwal yang cocok, jadilah kami naik bus. Perjalanan Bandung-Cirebon kurang lebih memakan waktu empat jam dengan pemandangan yang ngga cinematic. Tidur, bangun, tidur, bangun lagi, eh masih di Kabupaten Sumedang. Sepanjang jalan ya pemandangannya cuma bukit-bukit kehijauan tapi tidak seindah jalur Puncak yang menghubungkan Bogor-Cianjur. 

Menjelang pukul dua belas siang kami tiba di Cirebon tapi no clue mau turun di mana. Karena mengincar empal gentong H. Aput yang katanya tersohor dan enak itu, kami berhenti di sebuah perempatan yang ngga jauh dari kedai empal gentong. Saya yang bercita-cita jadi pescetarian dengan tidak mengonsumsi daging sapi akhirnya kalah dengan godaan bernama empal gentong. Ampun.

Kelar dengan perkara empal gentong, Inas dan saya bergegas menuju tempat penginapan. Cirebon yang luar biasa panasnya karena terletak di daerah pesisir membuat kami sedikit berleha-leha ketika pendingin suhu di kamar sudah menyala. Setelah beristirahat, saya dan Inas melanjutkan agenda dengan mengunjungi Keraton Kasepuhan dengan GO CAR karena spot yang kami tuju agak susah dijangkau dengan angkot. Lagipula ongkos GO CAR dari penginapan menuju Keraton Kasepuhan sama dengan ongkos naik angkot untuk dua orang. Kebetulan di Cirebon ini gampang banget nyari GO CAR, so don't worry. 

Dibandingkan tahun 2015, Keraton Kasepuhan yang sekarang menurut pendapat saya ngga seindah dulu. Kereta kencana yang tadinya dipamerkan ngga jauh dari bangunan utama justru digeser ke sebuah bangunan baru yang jalan penghubungnya ditumbuhi rerumputan liar. Wisatawan juga tidak diperbolehkan untuk masuk ruangan yang ada singgasananya. Di ruangan yang saya maksud ini dekorasinya sebenarnya unik. Jadi di sekeliling tembok dihiasi oleh porselen-porselen berlukiskan sebuah cerita (yang saya lupa detailnya tentang apa) dari Cina. Karena penasaran dengan berbagai perubahan yang ada di keraton, saya bertanya ke penjaga. Beliau hanya berkata "ya tergantung sultannya, mbak". Baiklah. 
Ya tergantung sultannya, mbak
Cirebon ngga bakal seru kalo muterin Keraton Kasepuhan doang, maka kami juga berkunjung ke Keraton Kanoman. Lagi-lagi kami naik GO CAR karena alasan efisiensi. Nah rute ke Keraton Kasepuhan ini agak ajaib sebenarnya. Bagi orang yang pernah belajar urban design, biasanya kawasan yang memiliki nilai keistimewaan yang tinggi seperti kawasan keraton maka akan ditata seikonik mungkin agar ciri kawasan tersebut dapat dirasakan dengan kuat. Contohnya adalah kawasan Malioboro yang merupakan bagian dari sumbu imajiner yang terhubung ke Keraton Ngayogyakarta. Sayangnya hal ini ngga tampak di Keraton Kanoman. Untuk mencapai kawasan keraton pengunjung malah harus melalui kawasan pasar yang identik dengan kesemerawutan. Berbeda dengan Malioboro yang kawasan pedestriannya benar-benar ditata dan menimbulkan kesan lapang, pasar yang terdapat di akses menuju Keraton Kanoman ini kesannya benar-benar menutupi kawasan keraton.

bagian dari gapura Keraton Kanoman

Mengelilingi Keraton Kanoman sebenarnya perkara yang sangat mudah karena tapak situsnya yang ngga terlalu luas. Lagipula luas area yang bisa diakses pengunjung tidak lebih luas jika dibandingkan di Keraton Kasepuhan. Di sini kami bertemu seseorang, yang entah ditunjuk sebagai pemandu atau penjaga keraton, yang memandu kami mengelilingi Keraton Kanoman. Ternyata selain bagian depan yang mirip dengan rumah pak camat di pedesaan yang super luas, di belakang keraton masih ada museum. Setelah selesai keraton tour, kami menunggu GO CAR menuju penginapan di sebuah bale yang terletak tidak jauh dari gerbang keraton. Si pemandu tadi bercerita tentang kenangan festival keraton ketika Cirebon menjadi tuan rumahnya. Dari cerita beliau, saya sebenarnya menangkap kalau di para orang yang terkait dengan keraton-keraton di Cirebon ini punya romansa tentang masa kejayaan, tapi mengenangnya dengan cara yang serba canggung. Dalam asumsi saya, Cirebon ini pengen banget mengembangkan sektor pariwisata dengan keraton sebagai atraksi utamanya cuma serba bingung dalam mengidentifikasi langkah-langkahnya.

Menjelang maghrib kami beranjak ke penginapan. Rencana selanjutnya adalah kulineran lagi sambil jalan-jalan ke kota tua-nya Cirebon, apa daya hujan turun cukup lama. Karena dua anak manusia ini masih lapar, kami akhirnya mencoba untuk legowo dengan mencicipi nasi jamblang yang terletak di dekat penginapan. Sebenarnya ngga ada yang luar biasa dari nasi jamblang selain nasi dan aneka lauk pauk yang disajikan di atas daun jamblang. Ngomong-ngomong kalo ada netizen yang penasaran mengapa tidak ada foto makanan padahal setengah dari agenda ke Cirebon adalah wisata kuliner, jawabannya cuma satu: Inas dan saya ngga bakat buat jadi food blogger karena begitu makanan datang, ya langsung dicicipin.

Keesokan harinya kami melaksanakan rencana semalam yang tertunda. Lagi-lagi dengan menggunakan GO CAR kami menuju kota tua. First impression? Ngga beda jauh dengan kompleks kota tua Semarang, tapi masih kalah cantik meskipun kategorinya tetap walk-able kok. Kami hanya berfoto-foto di sini sampai ngga sengaja menemukan permata tersembunyi berupa nasi lengko. Bisa dibilang nasi lengko adalah versi Cirebon dari pecel, cuma ngga pake sambel kacang. Komponen utamanya sayuran rebus dan tempe yang dicacah lalu diberi kecap. Lauknya terserah apa aja.

Keraton checked, makanan checked. Saatnya pulang!
Made With Love By The Dutch Lady Designs