May 1, 2019

APRIL SUDAH USAI

Source: Unsplash

Saya pengen berkomitmen buat menulis jurnal bulanan seperti yang saya lakukan pada tahun terakhir S1 dan masa-masa awal lulusan jenjang sarjana. Alasannya emang receh banget: saya ingin mengingat pada bulan itu sudah melakukan apa saja dan bagaimana saya menginterpretasikan perasaan saya. 

Selama bulan April ini, jujur ya, saya bener-bener emosional. Entah karena range emosi yang udah bisa saya ungkapkan jauh lebih banyak dibandingkan setahun yang lalu yang lantas tiba-tiba meledak seperti bom waktu, atau murni ya karena peristiwa yang terjadi emang bikin mentally exhausted. Pertama, mari kita ingat-ingat bahwa April ini adalah bulan terakhir perkuliahan S-2. Seneng ngga? Seneng dong. Satu jenjang selesai juga. Rasanya seperti mimpi lama yang terkabul. Dulu saya pernah punya mimpi pengen punya kelar S-2 di usia 24, ya meskipun sekarang kondisinya belum sidang. Ada sedikit potongan cerita tentang rangkaian peristiwa yang mendahului momen penting ini di tulisan sebelum ini. Kedua, ini bulan terakhir saya berusia 23. Seperti tradisi tahunan saya sejak ulang tahun ke-19, saya menulis surat cinta buat diri sendiri. Nanti ya dipublikasikannya, satu hari sebelum ulang tahun. Bahagia ga jadi manusia berumur 23? Tunggu ae wes di surat cinta. 

Oh ya, di bulan ini pula Miru dan Uti ulang tahun. Sobat-sobat yang saya kenal sejak tahun 2010 ini akhirnya berumur 24. Tahun ini Miru sudah resmi menjadi PNS di tingkat pusat. Uti pun akhirnya lulus dan jadi mahasiswa S2 juga. Selamat ulang tahun ya buat kalian berdua! Ucapan selamat udah ada di chat masing-masing kan ya? 

Pada bulan ini pula saya menghabiskan satu pekan di Bogor karena ada libur pemilu. Hal yang membuat pulang kali ini lebih berkesan adalah ada Megut, Aga, dan Naomi beserta pacarnya. Mereka adalah kawan-kawan yang saya kenal semasa tinggal di Surabaya. Indeed, Bogor untuk sesaat serasa Surabaya. Seperti biasa pertemuan dengan Megut dan Aga adalah waktunya untuk mengenang segala kekonyolan yang sudah kami lalui, tapi kali ini ditambah bumbu tentang mimpi yang ingin dicapai sebagai orang dewasa. Begitu pula dengan Naomi. Si adik kelas ini semakin tahu apa yang mau dilakukan. Saya juga bersyukur punya kesempatan buat bonding dengan adik kelas yang pernah satu tim asdos dan proyek penelitian ini. 

Lain kali juga saya mau bercerita tentang Agora. 

Cheers!

April 26, 2019

HAMPIR USAI


Jum'at ini adalah hari terakhir perkuliahan saya sebagai mahasiswa strata dua. Saya melenggang ke kampus dengan perasaan campur aduk. Senang iya, sedih iya, bingung iya. Sepanjang perjalanan sejauh tiga kilometer itu saya mencoba mengingat-ingat perasaan saya ketika memulai perjalanan ini, termasuk segala 'kerikil' yang ada.

Perjalanan, atau mungkin petualangan, untuk belajar di Bandung sesungguhnya tidak dimulai pada bulan Januari 2018. Ngga akan lah hal tersebut terjadi kalau saya tidak membuka laman pendaftaran program magister di kampus teknik tertua se-Indonesa ini sehari setelah saya diwisuda dari sebuah kampus teknik lainnya di Jawa Timur. Hampir semua berkas sudah saya miliki. Mungkin terlalu kebetulan. Setiba di Bogor saya pun memulai melanjutkan pengerjaan berkas-berkas pendaftaran tersebut. Pada pertengahan bulan Oktober semua berkas harus diunggah. Proses selanjutnya adalah tes, yang mengharuskan saya untuk pergi ke Bandung pada akhir bulan kesepuluh. 

Selama tiga puluh enam jam di Bandung itu saya juga bersua dengan beberapa kawan semasa kuliah di Surabaya dan satu orang lagi yang sudah saya kenal sejak 2010. Dalam versi yang paling melankolis, mungkin saya menduga kalau Tuhan ngga ingin saya sendiri di Bandung sampai kehabisan gaya. Siang hari sesudah solat dzuhur saya pergi untuk meninjau lokasi tes. "Oh ternyata ngga jauh lah," batin saya. Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung Planning Gallery. Di sana sudah ada Aga, Inggar, Fadli, Endy, dan Syara. Mereka berlima kebetulan sedang berlibur ke Bandung. Seusai berkeliling galeri dan menunggu hujan reda saya kemudian kembali ke penginapan. Ada waktu sekitar tiga jam sebelum saya berburu foto di kawasan Braga dengan latar suasana malam hari.

Malam itu saya banyak berbincang dengan kawan yang selama ini saya anggap kurang cocok untuk deep talk. Ternyata saya salah besar. Obrolan dengan orang ini, yang diselingi bubur ayam, kemudian menjadi pengingat saya atas ambisi-ambisi saya dalam versi yang sedikit lebih muda. Saya diingatkan secara tidak langsung tentang ekspektasi yang ada dalam pikiran saya. 

November 2017 saya memulai magang kedua saya sebagai asisten peneliti. Kelak ini adalah pengalaman yang membuka pandangan saya tentang riset yang praktis tetapi masih dalam koridor idealis. Saya pun dibuat makin jatuh cinta dengan dunia riset. Selama bulan November hingga akhir Desember 2017 itu saya menjadi bagian dari sekian banyak pekerja ulang-alik yang setiap harinya menempuh perjalanan Bogor-Jakarta dengan kereta rel listrik. Jauh lah dari kata romantis seperti yang terlihat di film-film. Hari terakhir saya magang adalah sehari sebelum saya akan berangkat daftar ulang. Sempat terbesit di pikiran saya untuk kembali barang sehari setelah daftar ulang untuk ikut merayakan makan siang perpisahan di kantor. Namun situasi saat itu tidak memungkinkan. Pada hari terakhir magang saya sempat menangis ketika berjalan dari kantor ke stasiun terdekat. Saya sempat berhenti di depan bangunan tak jauh dari stasiun yang pernah membuat saya sedih ketika SMA karena saya hampir memenangkan lomba yang saya impikan.

Hari pertama di bulan 2018 kemudian menjadi penanda bahwa saya mulai tinggal di Bandung. Setelah semalam mendengar riuh suara kembanga api yang dinyalakan para tetangga, saya berangkat ke Bandung pada pukul 8 pagi. Lima jam kemudian saya akhirnya tiba di rumah kos baru yang akan saya huni setidaknya untuk satu tahun yang akan datang. Hari pertama di hunian baru diisi dengan membongkar kardus-kardus berisi segala rupa barang yang diperlukan anak kos untuk bertahan hidup. Dua minggu sebelumnya, Bapak dan saya sudah terlebih dahulu pergi ke Bandung untuk mengantarkan kelima karuds tersebut, sekaligus untuk daftar ulang.

Perkuliahan pun resmi dimulai pada 2 Januari 2018. Semester pertama dimulai dengan empat mata kuliah wajib dan satu mata kuliah pengayaan untuk studio. Lantas, bagaimana perkuliahan saya? Secara umum, baik-baik saja. Namun secara khusus, oh tentu dong ada drama-drama yang terjadi karena perpindahan dari lingkungan yang kelompok umurnya cenderung seragam ke yang semakin heterogen, perbedaan ideologi dan prinsip kehidupan, dan hal-hal receh lainnya yang belum pernah saya duga sebelumnya.

Ada momen-momen yang membuat saya merasa dihargai sebagai manusia di luar kumpulan momen lain yang membuat saya frustasi. Saya senang ketika foto karya saya yang dipakai sebagai sampul presentasi studio dipuji oleh dosen, padahal foto itu saya ambil terburu-buru karena ide Novril. Ada kalanya saya merasa puas dengan hasil tulisan saya yang saya kerjakan sungguh-sungguh sampai kekurangan waktu tidur tetapi masih lolos dari revisi dosen dan dianggap layak sebagai tulisan yang mendekati sempurna versi beliau. Hal yang tidak kalah menyenangkan adalah ketika si anak kemarin sore ini keberadaannya benar-benar dianggap ada dan didengar suaranya, bukan sekadar manusia yang hanya ingin melankutkan kuliah.

Setelah semua perkuliah ini usai saya masih harus belajar untuk ujian pada awal mei, mengerjakan proyek individu yang setara dengan ujian, dan sidang tesis. Masih ada satu hingga dua bulan lebih sedikit sebelum saya patut berkata, "kelar juga nih S-2". Untuk yang pernah hadir dalam hidup saya dan menerima saya dalam berbagai versi, terima kasih. Semoga Yang Maha Pengasih membalas segala kebaikan kalian.  

April 21, 2019

ON DREAMING TO BE AN ACADEMIA


Salah satu hal yang sering ditanyakan kepada saya adalah perihal cita-cita saya. Terlepas dari latar belakang salah satu orang tua saya yang menekuni bidang pendidikan, orang yang sudah tahu tentang hal tersebut juga masih menanyakan hal yang sama. But that's okay and I have no problem with it. 

Sebagian orang yang sudah membaca blog ini dari masa SMA saya yang dimulai dari tahun 2010 mungkin tahu kalau cita-cita saya saat itu hingga menjelang pendaftaran kuliah adalah menjadi desainer atau seniman. Mana pernah terlintas di pikiran saya untuk masuk ke fakultas teknik? Tapi dengan segala pertimbangan saat itu, saya memberanikan diri untuk mendaftar ke jurusan perencanaan wilayah dan kota. Pada bulan Juli 2013 saya diterima di PWK ITS melalui jalur SBMPTN. Sebuah perjuangan bagi orang yang menjalani kehidupan akademisnya semasa SMA dengan terseok-seok. 

Saya menjalani permulaan sebagai mahasiswa di jurusan PWK dengan biasa saja. Paling saya ingin memperbaiki kemampuan akademis saya karena saya sudah merasa cukup puas dengan menjadi sedikit "bandel" semasa tiga tahun di SMA. Pokoknya, saya pengen berhasil deh di kuliah ini. Saya juga ingin merasakan bagaimana menemukan kesenangan dalam belajar. 

Allah yang Maha Baik menakdirkan saya untuk bertemu dan diajar oleh dosen-dosen yang membuat saya nyaman selama perkuliahan. Mereka pula yang berkontribusi dalam menstimulus minat saya untuk menjadi akademisi. Serius deh, saya banyak berhutang sama mereka. Mungkin kalau tidak bertemu dengan mereka, mimpi saya akan nyangkut di situ-situ aja. Saya melalui perkuliahan dengan baik, meskipun prestasi saya terhitung standar. Nilai saya cukup untuk mendapatkan gelar impian sejuta umat: cum laude. Saya pun mendapatkan kesempatan sebanyak 3 kali untuk menjadi teaching assistant. 

Titik balik kedua saya selain bertemu dan diajar oleh dosen-dosen yang saya rasa mampu memahami saya adalah pengalaman mengajar sebagai teaching assistant. Kelas yang saya ajar adalah statistika terapan, studio perencanaan kota, dan metodologi penelitian. Memang ada sih sedikit mimpi untuk mencapai hal tersebut mulai dari semester kedua. Sekian lama memimpikannya, pada semester keenam lah saya untuk pertama kalinya mendapatkan mandat tersebut. Rasanya senang bukan main! Saya yang waktu SMA sering mengulang ujian dan bahkan harus memperbaiki nilai kumulatif malah bertahun-tahun kemudian mendapatkan kesempatan mengajar. Pengalaman saya yang kurang baik di bidang akademik semasa SMA ternyata menjadi pemicu saya untuk menyampaikan materi sesederhana mungkin. Beberapa kali juga saya menyediakan waktu asistensi tambahan.

Ada sensasi yang aneh setiap kali mengajar. Entah kombinasi merasa superior karena bisa berperan dalam menyampaikan ilmu, atau memang murni perasaan senang karena sudah berkembang dibandingkan masa rok abu-abu. Bisa juga perasaan yang menenangkan yang timbul karena eksistensi saya sebagai manusia dihargai. Sesederhana sekaligus serumit itu.

Saya bukannya tidak pernah bermimpi menjadi dosen. Justru itulah mimpi terwaras saya setelah dengan suka rela dan suka cita melepaskan ambisi menjadi desainer atau seniman lukis. Kebimbangan antara menjadi dosen muncul pada tahun terakhir kuliah. Sewaktu pendaftaran sebuah program master yang diselenggarakan oleh sebuah konsorsium terkemuka di Eropa pun saya menulis bahwa misi saya setelah lulus adalah kalau tidak menjadi dosen, ya menjadi peneliti. Ketidakjelasan ini saya anggap sebagai hal yang membuat saya gagal diterima selain karena pengalaman yang kurang. Namun karena kegagalan itu pula saya berani untuk menyatakan apa yang ingin saya lakukan selepas kuliah. Keputusan saya untuk menjadi peneliti saja datang karena sistem di Indonesia tidak mengakomodasi saya yang ingin lintas kelompok disiplin ilmu pada jenjang S-2 dan S-3 serta sistem rekrutmen yang agak absurd.

Di titik saat ini saya merasa bersyukur bahwa orang tua saya mendukung mimpi saya. Memang ada kalanya mereka salah paham, tetapi saya mencoba mengingat yang baik-baik saja daripada tambah pusing. Mereka mengizinkan saya untuk melakukan penelitian tesis di tempat yang jauh dari rumah. Ketika penelitian saya membutuhkan iterasi wawancara, merekapun dengan senang hati masih mau membiayainya sepenuhnya. Sebagai anak dari orang tua yang kuliah di bidang eksak, diam-diam ada perasaan bahagia kalau mereka menerima saya yang menempuh jalur setengah sains sosial. Saya pun sadar bahwa yang saya lakukan hari ini pun dipengaruhi oleh privilese yang saya punya dengan orang tua seperti itu. 

April 20, 2019

CATATAN DARI PANGALENGAN


Enam hari tinggal di rumah sewaan di Pangalengan, yang menghadap ke Situ Cileunca, mungkin tidak akan pernah cukup untuk mengenal wilayah pegunungan di sisi selatan Bandung ini. Ini bukan kali pertama kali saya berkunjung ke Pangalengan, tetapi mengunjungi wilayah yang sama dengan misi yang beda tentu meninggalkan kesan tersendiri.

Pada pertengahan bulan Oktober 2018 yang sudah menampakkan aroma musim penghujan, saya dan tujuh belas kawan lainnya yang tergabung dalam satu kelompok mata kuliah studio berangkat menuju Pangalengan dengan misi yang sedikit mulia, tetapi juga sedikit sengklek. Seperti perkuliahan di jenjang sarjana, tentu kami harus melaksanakan survei studio. Lalu sengkleknya dimana? Oh, kami sudah berniat untuk menjajal rafting di aliran sungai yang terhubung dengan Situ Cileunca. Ngomong-ngomong, barangkali ada yang bertanya mengapa kelompok saya memilih Pangalengan sebagai kawasan studi. Tema studio kali ini adalah kebijakan publik untuk pengentasan kemiskinan di desa tertinggal di Provinsi Jawa Barat. Awalnya kami berniat untuk sedikit bertualang ke kabupaten lain. Namun apadaya karena harus menyesuaikan dengan kondisi teman-teman lain yang sudah berkeluarga dan tidak bisa menginap untuk jangka waktu yang agak lama, kami akhirnya memilih Kabupaten Bandung saja. Dibandingkan kecamatan-kecamatan lain yang masih memiliki desa tertinggal, Kecamatan Pangalengan mudah diakses dari Soreang, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung sekaligus tempat kami mengambil data-data untuk tingkat kabupaten.

Setelah berbagai huru-hara yang terjadi selama sebulan sebelum survei di lapangan kami akhirnya berangkat pada Senin, 15 Oktober 2018. Sebagaimana mahasiswa yang serius, kami sudah mencetak puluhan kuesioner dan lembar panduan wawancara, membeli dua kardus Indomie sebagai panganan selingan, dua kilogram lebih sedikit jajanan kiloan, satu pak Tolak Angin, dan menyiapkan sederet perlengkapan lainnya. Jadwal kerja dan partner survei pun sudah dibagi tiga hari sebelumnya. Saya merasa beruntung berpartner dengan Mas Haris yang tidak semata-mata hanya berbeda empat tahun lebih tua dari saya serta dapat berjalan kaki dengan cepat, tapi juga terorganisir dan terampil menyiapkan berbagai peralatan receh tapi penting.

NYASAR ADALAH SARANA MENERTAWAKAN DIRI

Hari pertama survei adalah hari yang super santai. Kami hanya presentasi dengan perwakilan SKPD di Soreang, yang kemudian kami lanjutkan dengan disposisi permintaan data dan izin wawancara dengan Dinas Lingkungan Hidup. Sore harinya kami melanjutkan perjalanan menuju penginapan di Pangalengan. Lumayanlah, ada sedikit jeda sebelum survei sesungguhnya dimulai.

Sesuai dengan jadwal kerja yang sudah kami sepakati, saya dan Mas Haris mendapat tugas untuk menyurvei rumah tangga miskin dan observasi lingkungan di RW 08. Berbekal peta dari kantor desa yang tidak disertai skala dan arah mata angin, saya dan partner saya melengang dengan penuh percaya diri ke wilayah yang dimaksud. Kami sebenarnya sempat ragu-ragu, tetapi kemudian seorang warga yang kami tanyai pun meyakinkan bahwa kami berjalan ke wilayah yang benar.

Ya salam, ternyata kami nyasar. Jauh sekali. Untuk kembali ke kantor desa dan berjalan ke wilayah awal rasanya juga kurang feasible. Setelah bernego-nego dengan kelompok lain, saya dan Mas Haris sepakat untuk menyurvei RW 05 alias tempat kami terdampar. Setelah perkara nyasar kelar, ternyata tidak ada pula yang bisa menjemput kami. Kira-kira selama hampir satu jam kami berjalan menyusuri jalan ke kantor desa dengan suasana yang luar biasa berkabut dan dalam kondisi belum makan siang karena kami tidak membawa perbekalan karena awalnya kami berasumsi akan ada warung. Sebenarnya konyol juga sih berharap ada warung di RW tersebut karena kan yang kami survei adalah permukiman warga pra-sejahtera. Toko kelontong yang kami temui hanya satu, itu pun jajanan yang dijual juga banyak yang kemasannya berdebu.


HATI-HATI DENGAN OMONGAN

Hari ketiga berjalan dengan baik-baik saja. Kami berdua tidak perlu mengelilingi Desa Sukaluyu untuk satu hari karena di hari itu kami mendapat giliran untuk mewawancarai informan di Kantor Kecamatan Pangalengan dan Dinas Lingkungan Hidup. Entah kenapa kesempatan tersebut rasanya mirip hari balas dendam untuk makan siang yang layak dan jajan. Sepiring lontong kari ayam di dekat kantor kecamatan dan sekotak kue lapis yang kami beli untuk makan bersama di penginapan sudah lebih dari cukup.

Pada hari keempat saya dan Mas Haris mendapatkan giliran untuk survei di RW 10. Wilayah ini cukup dekat dengan penginapan dan jalan raya. Kami yang sudah kapok memutuskan untuk makan siang (yang sedikit terlalu pagi) sebelum survei. Saya iseng-iseng bercelutuk, "mas, di wilayah kita kok ngga ada sapinya ya?" karena penasaran. Selama ini saya mengenal Pangalengan sebagai wilayah sapi perah. Informasi ini juga divalidasi oleh Oci yang sebelumnya sempat ke Sukaluyu dan memang mengatakan bahwa di desa kami ada sapi perah. Namun yang terjadi selama tiga hari saya belum melihat sapi perah di wilayah survei saya dan Mas Haris.

Eh ternyata di hari keempat kami harus berkeliling wilayah yang menjadi konsentrasi kegiatan sapi perah. Bagaimana rasanya?

Nano-nano, banyak rasanya. Ya begitulah. Sepanjang perjalana aromanya luar biasa. Belum lagi ditambah dengan bau kotoran sapi dan limbah peternakan lainnya yang ngga dikelola dengan baik.  Mayoritas peternak yang kami temui memang tidak mengelola limbah kotoran sapi dengan baik dengan alasan lahan yang mereka miliki terbatas. Alhasil limbah kotoran sapi hanya diserok ke luar kandang menuju saluran air. Pokoknya limbahnya ngga di pekarangan mereka deh. Setelah urusan kami mengobservasi dan mewawancarai para responden dan informan yang kami butuhkan kelar, kami bergegas kembali ke penginapan. Karena tidak tahan dengan bau yang sepertinya sudah melekat sekali di pakaian, saya segera mencuci semua baju saya dan mandi sesampainya di penginapan.

Urusan kami menyurvei area yang menjadi konsentrasi peternakan sapi perah ternyata tidak kelar di hari itu. Masih kurang sekian rumah dan foto titik pencemaran yang mau ngga mau baru kami bisa kerjakan Jum'at pagi karena pada Kamis sore kami sudah terlebih dahulu berencana mendokumentasikan kegiatan di lokasi penimbangan susu. Pada Jum'at pagi tepat pukul tujuh saya dan Mas Haris bergegas menuju area kerja kami hari itu. Untunglah matahari belum terik. Lumayan lah peluang saya misuh-misuh berkurang karena suasananya masih kondusif. Kami berdua kembali menelusuri sisa rute kemarin dan menambahnya dengan mendaki sisi bukit yang lain. Meskipun rute hari itu lumayan berat medannya, saya mendapatkan balasan yang sepadan: ngembil roti coklat dan leyeh-leyeh sebentar di antara kebun teh dengan pemandangan bukit yang kehijauan.

Siang hari setelah makan siang sembari menunggu Mas Haris berangkat solat Jumat saya mendapatkan waktu istirahat sekitar dua jam sebelum merekap hasil survei. Teman-teman yang lain sedang makan siang di kawasan sekitar kantor kecamatan. Saya, yang agak mungkin kelelahan, memutuskan untuk tidur-tiduran saja, entah sambil nonton dokumenter kuliner di YouTube atau mengamati media sosial. Tahu apa yang terjadi? Saya tertidur di ruang tamu penginapan selama hampir 30 menit, tapi serasa 2 jam

Ya Tuhan, rasanya itu tidur siang paling nikmat. 

April 3, 2019

PAST AND PRESENT


I haven't written anything on this blog for such a long time. Indeed, I can post thousands of excuses here, but that won't make any sense, right? I'm doing fine and not so fine here. Currently, this girl is in her last semester of master degree. Never I thought that this journey will be this thoughtful. I have to read a lot, loaded with tons of assignments and discussions, conduct individual and group projects, and finally research and write a master thesis.  

I consider myself privileged to be able to go to graduate school only a semester after I obtained my bachelor degree. However, being privilege doesn't mean that it is that easy. Apart from not having to work to my pay tuition, my parents who are both living in the academic setting are expecting me to go beyond. I know I can do this, but sometimes there were times when I feel burden. Sometimes I hope that I am surrounded by kids that are living the same pace with me or just wanting to go faster to motivate ourselves to achieve more. I used to have friends like that during my days as a high school and undergraduate student. It's fun, actually. Everything seemed more bearable as well. 

I talked to myself a while about the ideal environment that I want to have. It ended up with a self-reflection session to broke (probably) the most fragile side of me. Blaming the current situation won't make go further. So I just keep running and walking with my own pace while reminiscing the good old days when I lived close to the people that made my life fascinating.